Aku jadi budak seks bapak Mertua yg buas dan 17 tahun Sedarah hubungan intim dalam keluarga, Update 2023 – jose-goncalves.com
Mon. Jan 30th, 2023

Aku jadi budak seks bapak Mertua yg buas dan 17 tahun Sedarah hubungan intim dalam keluarga

Cerita Bokep Indonesia – Cerita Seks ini adalah cerita mesum Aku yakni seorang laki-laki biasa, hobbyku berolah raga, tinggi badanku 178 cm dengan bobot badan 75 kg, Tiga tahun yang lalu saya menikah dan menetap di rumah mertuaku. Hari-hari berlalu kami lewati tanpa adanya halangan walaupun sampai saat ini kami memang belum dianugrahi seorang anak pendamping hidup kita berdua.  Kehidupan berkeluarga kami sangat baik, tanpa kekurangan apapun baik itu sifatnya materi maupun kehidupan seks kami. Tetapi memang nasib keluarga kami yang masih belum diberikan seorang momongan. 

Di rumah itu kami tinggal bertiga, aku dengan istriku dan
Ibu dari istriku. Sering aku pulang lebih dulu dari istriku, karena aku pulang
naik kereta sedangkan istriku naik kendaraan umum. Jadi sering pula aku berdua
di rumah dengan mertuaku sampai dengan istriku pulang.  Mertuaku berumur sekitar kurang lebih 45
tahun, tetapi dia mampu merawat tubuhnya dengan baik, aktif dengan kegiatan
sosial dan bersenam bersama Ibu-Ibu yang lainnya. Kadang sering kulihat Ibu
mertuaku pakai baju tidur tipis dan tanpa BH, melihat bentuk tubuhnya yang
masih lumayan dengan kulitnya yang putih membuatku kadang bisa hilang akal
sehat. Pernah suatu hari, selesai Ibu mertua selesai mandi hanya menggunakan
sehelai handuk yang dililitkan ke badannya.

Gak lama dia keluar kamar mandi telpon berdering, sesampai
dekat telpon ternyata Ibu mertuaku sudah mengangkatnya, dari belakang kulihat
bentuk pangkal pahanya sampai ke bawah kakinya begitu bersih tanpa ada bekas
goresan sedikitpun.  Aku tertegun diam
melihat kaki Ibu mertuaku, dalam hati berpikir “Kok, udah tua begini masih
mulus aja ya..?”.  Aku terhentak kaget
begitu Ibu mertuaku menaruh gagang telpon, dan aku langsung berhambur masuk
kamar, ambil handuk dan mandi. Selesai mandi aku membuat kopi dan langsung
duduk di depan TV nonton acara yang lumayan untuk ditonton.  Gak lama Ibu mertuaku nyusul ikutan nonton
sambil ngobrol denganku.  “Bagaimana
kerjaanmu, baik-baik saja” tanya Ibu mertuaku. “Baik, Bu. Lho Ibu sendiri
gimana” tanyaku kembali. Kami ngobrol sampai istriku datang dan ikut gabung
ngobrol dengan kira berdua.  Malam itu,
jam 11.30 malam aku keluar kamar untuk minum, kulihat TV masih menyala dan
kulihat Ibu mertuaku tertidur di depan TV. Rok Ibu mertuaku tersibak sampai
celana dalamnya kelihatan sedikit. Kulihat kakinya begitu mulus, kuintip roknya
dan terlihatlah gumpalan daging yang ditutupi celana dalamnya.  Pengen banget rasanya kupegang dan kuremas
vagina Ibu mertuaku itu, tetapi buru-buru aku ke dapur ambil minum lalu membawa
ke kamar. Sebelum masuk kamar sambil berjalan pelan kulirik Ibu mertuaku sekali
lagi dan burungku langsung ikut bereaksi pelan. 
Aku masuk kamar dan coba mengusir pikiranku yang mulai kerasukan ini.
Aku telat bangun, kulihat istriku sudah tidak ada. 

Langsung aku berlari ke kamar mandi, selesai mandi sambil
mengeringkan rambut yang basah aku berjalan pelan dan tanpa sengaja kulihat Ibu
mertuaku berganti baju di kamarnya tanpa menutup pintu kamar. Aku kembali diam
tertegun menatap keseluruhan bentuk tubuh Ibu mertuaku. Cuma sebentar aku masuk
kamar, berganti pakaian kerja dan segera berangkat.  Hari ini aku pulang cepat, di kantor juga
nggak ada lagi kerjaan yang aku harus kerjakan. Sampai di rumah aku langsung mandi,
membuat kopi dan duduk di pinggir kolam ikan. Sedang asyik ngeliatin ikan
tiba-tiba kudengar suara teriakan, aku berlari menuju suara teriakan yang
berasal dari kamar Ibu mertuaku. Langsung tanpa pikir panjang kubuka pintu
kamar.  Kulihat Ibu mertuaku berdiri
diatas kasur sambil teriak “Awas tikusnya keluar..!” tandas Ibu mertuaku.  “Mana ada tikus” gumanku. “Lho.. kok pintunya
dibuka terus” Ibu mertuaku kembali menegaskan. Sambil kututup pintu kamar
kubilang “Mana.. mana tikusnya..!”. “Coba kamu lihat dibawah kasur atau disudut
sana..” kata Ibu mertuaku sambil menunjuk meja riasnya. 

Kuangkat seprei kasur dan memang tikus kecil mencuit sambil
melompat kearahku. Aku ikut kaget dan lompat ke kasur. Ibu mertuaku tertawa
kecil melihat tingkahku dan mengatakan “Kamu takut juga ya?”.  Sambil berguman kecil kembali kucari tikus
kecil itu dan sesekali melirik ke arah Ibu mertuaku yang sedang memegangi rok
dan terangkat itu. Lagi enak-enaknya mencari tiba-tiba Ibu mertuaku kembali
teriak dan melompat kearahku, ternyata tikusnya ada di atas kasur. Ibu mertuaku
mendekapku dari belakang, bisa kurasakan payudaranya menempel di punggungku,
hangat dan terasa kenyal-kenyal. Kuambil kertas dan kutangkap tikus yang udah
mulai kecapaian itu trus kubuang keluar. 
“Udah dibuang keluar belum?” tanya Ibu mertuaku. “Sudah, Bu.” jawabku.
“Kamu periksa lagi, mungkin masih ada yang lain.. soalnya Ibu dengar suara
tikusnya ada dua” tegas Ibu mertuaku. “walah, tikus maen pake ajak temen
segala!” gumamku. Aku kembali masuk ke kamar dan kembali mengendus-endus dimana
temennya itu tikus seperti yang dibilang Ibu mertuaku.  Ibu mertuaku duduk diatas kasur sedangkan aku
sibuk mencari, begitu mencari di bawah kasur sepertinya tanganku ada yang
meraba-raba diatas kasur. Aku kaget dan kesentak tanganku, ternyata tangan Ibu
mertuaku yang merabanya, aku pikir temennya tikus tadi. Ibu mertuaku tersenyum
dan kembali meraba tangaku. Aku memandang aneh kejadian itu, kubiarkan dia
merabanya terus.  “Gak ada tikus lagi,
Bu..!” kataku. Tanpa berkata apapun Ibu mertuaku turun dari kasur dan langsung
memelukku. Aku kaget dan panas dingin. 
Dalam hati aku berkata “Kenapa nih orang?”. Rambutku dibelai, diusap
seperti seorang anak. Dipeluknya ku erat-erat seperti takut kehilangan.  “Ibu kenapa?” tanyaku.

“Ah.. nggak! Ibu cuma mau membelai kamu” jawabnya. “Udah ya.. Bu, belai-belainya..!” kataku. “Kenapa, kamu nggak suka dibelai sama Ibu” jawab Ibu mertuaku. “Bukan nggak suka, Bu. Cumakan..?” tanyaku lagi. “Cuma apa, ayo.. cuma apa..!?” potong Ibu mertuaku. Aku diam saja, dalam hati biar sajalah nggak ada ruginya kok dibelai sama dia.  Ibu mertuaku terus membelaiku, rambut trus turun ke leher sambil dicium kecil. Aku merinding menahan geli, Ibu mertuaku terus bergerilya menyusuri tubuhku. Kaosku diangkat dan dibukanya, pentil dadaku dipegang, diusap dan dicium.  Kudengar nafas Ibu mertuaku makin nggak beraturan. Dituntunnya aku keatas ranjang, mulailah pikiranku melanglang buana.  Dalam hati aku berpikir “Jangan-jangan Ibu mertuaku lagi kesepian dan minta disayang-sayang ama laki-laki”.  Aku tidak berani bertindak atau ikut melakukan seperti Ibu mertuaku lakukan kepada saya. Aku diatas ranjang dengan posisi terlentang, kulihat Ibu mertuaku terus masih mengusap-usap dada dan bagian perutku.  Dicium dan terus dielus, aku menggelinjang pelan dan berkata “Bu, sudah ya..”.  Dia diam saja dan tangan kananya masuk ke dalam celanaku, aku merengkuh pelan. Tangan kirinya berusaha untuk menurunkan celana pendekku. Aku beringsut untuk membantu menurunkan celana pendekku, tidak lama celanaku sudah lepas berikut celana dalamku.  Burungku sudah berdiri kencang, tangan kanan Ibu mertuaku masih memegang burungku dan menoleh kepadaku sambil tersenyum mesum. Kepala burungku diciumnya, tangan kirinya memijit bijiku, aku nggak tahan dengan gerakan yang dibuat Ibu mertuaku. 

Baca Juga Cerita Mesum Dewasa : Istri Ku Hyper Sex

“Ah, ah.. hhmmh, teruss..” itu saja yang keluar dari
mulutku.  Ibu mertuaku terus melanjutkan
permainannya dengan mengulum burungku. Aku benar-benar terbuai dengan
kelembutan yang diberikan Ibu mertuaku kepadaku. Kupegang kepala Ibu mertuaku
yang bergerak naik turun.  Bibirnya
benar-benar lembut, gerakan kulumannya begitu pelan dan teratur. Aku merasa
seperti disayang, dicintai dengan Ibu mertuaku. 
“Ah, Bu.. aku nggak tahan lagi Bu..” jelasku. “Hhmm.. mmh, heh..” suara
Ibu mertuaku menjawabku.  Gerakan kepala
Ibu mertuaku masih pelan dan teratur. Aku makin menggelinjang dibuatnya.
Badanku menekuk, meliuk dan bergetar-getar menahan gejolak yang tak tahan
kurasakan. Dan tak lama badanku mengejang keras.  Kurasakan nikmat yang amat sangat kurasakan,
kulihat Ibu mertuaku masih bergerak pelan, bibirnya masih menelan burungku
dengan kedua tangannya yang memegang batang burungku. Dia melihatku dengan
tatapan sayunya dan kemudian kembali menciumi burungku, geli yang kurasakan
sampai ke ubun-ubun kepala.  “Banyak banget
kamu keluarnya, Do..!” tanyaku Ibu mertuaku. 

Aku terdiam lemas sambil melihat Ibu mertuaku datang
menghampiriku dan memelukku dengan mesra. Aku balas pelukannya dan kucium
dahinya. Kubantu dia membersihkan mulutnya yang masih penuh spremaku dengan
menggunakan kaosku tadi. Aku duduk diranjang, telanjang bulat dan menghisap
rokok. Sedang Ibu mertuaku, tiduran dekat dengan burungku.  “Kenapa jadi begini, Bu..?” tanyaku. “Ibu
cuma pengen aja kok..” jawab Ibu mertuaku. Aku belai rambutnya dan kuelus-elus
dia sambil berkata “Ibu mau juga.?”.  Dia
menggangguk pelan, kumatikan rokokku dan terus kucium bibir Ibu mertuaku. Dia
balas ciumanku dengan mesra, aku melihat tipe Ibu mertuaku bukanlah tipe yang
haus akan seks, dia haus akan kasih sayang. Berhubungan badanpun sepertinya
senang yang pelan-pelan bukannya seperti srigala lagi musim kawin.  Aku ikut pola permainan Ibu mertuaku,
pelan-pelan kucium dia mulai dari bibirnya terus ke bagian leher dan belakang
kupingnya, dari situ aku ciumi terus ke arah dadanya.  Kubantu dia membukakan pakaiannya, kulepas
semua pakaiannya. Kali ini aku benar-benar melihat semuanya, payaudaranya masih
sedikit mengencang, badannya masih bersih untuk seumurannya, kakinya masih
bagus karena sering senam dengan teman-teman arisannya.  Kuraba dan kuusap semua badannya dari pangkap
paha sampai ke payudaranya.

Aku kembali ciumi dia dengan pelan dan beraturan.
Payudaranya kupegang, kuremas pelan dan lembut, kucium putingnya dan kudengar
desahan nafasnya.  Kunikmati dengan pelan
seluruh bentuk tubuhnya dengan mencium dan membelai setiap inchi bagian
tubuhnya. Puas di dada aku terus menyusuri bagian perutnya, kujilati perutnya
serta memainkan ujung lidahku dengan putaran lembut membuat dia kejang-kejang
kecil.  Tangannya terus meremas dan menjambak
rambutku. Sampai akhirnya bibirku mencium daerah berbulu miliknya, kucium aroma
vaginanya serta kujilati bibir vaginanya. 
“Oucchh.. terus sayang, kamu lembut sekali.. tee.. teruss..” kudengar
suaranya pelan.  Kumainkan ujung lidahku
menyusuri dinding vaginanya, kadang masuk kadang menjilat membuat dia seperti
ujung kenikmatan luar biasa. Kemudian ditariknya kepalaku dan melumat bibirku
dengan panas. Dia kembali menidurkan aku dan terus dia menaikiku.  Dipegangnya kembali burungku yang sudah
kembali siap menyerang. Diarahkan burungku ke lobang vaginanya dan slepp..
masuk sudah seluruh batangku ditelan vagina Ibu mertuaku. Diangkat dan digoyang
memutar-mutar vaginanya untuk mendapatkan kenikmatan yang dia inginkan.  “Ah.. uh, nikmat banget ya..!” kata Ibu
mertuaku. 

Dengan gerakan seperti itu tak lepas kuremas payudaranya dengan pelan sesekali kucium dan kujilat. “Aduh, Ibu nggak tahan lagi sayang..” kata Ibu mertuaku.  Aku coba ikut membantu dia untuk mendapatkan kepuasan yang dulu mungkin pernah dia rasakan sebelum denganku. Gerakannya makin cepat dari sebelumnya, dan dia berhenti sambil mendekapku kembali. Kurangkul dia dan terus menggoyangkan batang burungku yang masih didalam dengan naik turun. “Ahh.. ah.. ahhss..” desah Ibu mertuaku. Kupeluk dia sambil kuciumi bibirnya. Dia diam dan tetap diatas dalam dekapanku. “Enak ya.. Bu. Mau lagi..?” tanyaku. Dia menoleh tersenyum sambil telunjuknya mencoel ujung hidungku. “Kenapa? Kamu mau lagi?” canda Ibu mertuaku.  Tanpa banyak cerita kumulai lagi gerakan-gerakan panas, kuangkat Ibu mertuaku dan aku menidurkan sambil menciumnya kembali. Kutuntun dia untuk bermain di posisi yang lain. Kuajak dia berdiri di samping ranjangnya. 

Aku jadi budak seks bapak Mertua yg buas dan 17 tahun Sedarah hubungan intim dalam keluarga

Sepertinya dia bingung mau diapain. Tetapi untuk menutupi
kebingunggannya kucium tengkuk lehernya dan menjilati kupingnya. Kuputar
badannya untuk membelakangiku, kurangkul dia dari belakang. Tangan kanannya
memegang batang burungku sambil mengocoknya pelan.  Kuangkat kaki kanannya dan terus kupegangi
kakinya. Sepertinya dia mengerti bagaimana kita akan bermain. Tangan kanannya
menuntun burungku ke arah vaginanya, pelan dan pasti kumasukkan batang burungku
dan masuk dengan lembut.  Ibu mertuaku
merengkuh nikmat, kutarik dan kudorong pelan burungku sambil mengikuti gerakan
pantat yang diputar-putar Ibu mertuaku. Kutambah kecepatan gerakanku
pelan-pelan, masuk keluar dan makin kepeluk Ibu mertuaku dengan dekapan dan
ciuman di tengkuk lehernya.  “Ah.. ah..
Dod.. Dodo, kammuu..!” suara Ibu mertuaku pelan kudengar. “Ibu keluar lagi..
Do..” kata Ibu mertuaku.  Makin kutambah
kecepatan sodokan batangku dan.., “Acchh..” Ibu mertuaku berteriak kecil sambil
kupeluk dia. Tubuhnya bergetar lemas dan langsung jatuh ke kasur. Kubalik
tubuhnya dan kembali kumasukkan burungku ke vaginanya.  Dia memelukku dan menjepit pinggangku dengan
kedua kakinya. Kuayun pantatku naik turun membuat Ibu mertuaku makin meringkih
kegelian.  “Ayo Dodo, kamu lama banget
sih.. Ibu geli banget nih..” kata Ibu mertuaku.

“Dikit lagi, Bu..!” sahutku. 
Ibu mertuaku membantu dengan menambah gerakan erotisnya. Kurasakan
kenikmatan itu datang tak lama lagi. Tubuhku bergetar dan menegang sementara
Ibu mertuaku memutar pantatnya dengan cepat. Kuhamburkan seluruh cairanku ke
dalam vaginanya.  “Ahhcckk.. ahhk..
aduhh.. nikmatnya” kataku. Ibu mertuaku memelukku dengan kencang tapi lembut.
“Waduh banyak juga kayaknya kamu keluarkan cairanmu untuk Ibu..” kata Ibu
mertuaku.  Aku terkulai lemas dan tak
berdaya disamping Ibu mertuaku. Tangan Ibu mertuaku memegang batang burungku
sambil memainkan sisa cairan di ujung batang burungku. Aku kegelian begitu
tangan Ibu mertuaku negusap kepala burungku yang sudah kembali menciut. Kucium
bibir Ibu mertuaku pelan dan terus keluar kamar terus mandi lagi.  Semenjak hari itu aku sering mengingat
kejadian itu. Sudah empat hari Ibu mertuaku pergi dengan teman-temannya acara
jalan-jalan dengan koperasi Ibu-Ibu di daerah itu. Jam 05.00 sore aku sudah ada
di rumah, kulihat rumah sepi seperti biasanya. 
Sebelum masuk ke kamar tidurku kulihat kamar mandi ada yang mandi, aku
bertanya “Siapa didalam?”. 

“Ibu! Kamu sudah pulang Do..” balas Ibu mertuaku. “O, iya. Kapan sampainya Bu?” tanyaku lagi sambil masuk kamar. “Baru setengah jam sampai!” jawab Ibu mertuaku.  Kuganti pakaianku dengan pakaian rumah, celana pendek dan kaos oblong. Aku berjalan hendak mengambil handukku untuk mandi. Begitu handuk sudah kuambil aku berjalan lagi ke kamar mau tidur-tiduran dulu sebelum mandi.  Lewat pintu kamar mandi kulihat Ibu mertuaku keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk yang dililitkan ke badannya. Aku menunduk coba untuk tidak melihatnya, tetapi dia sengaja malah menubrukku.  “Kamu mau mandi ya?” tanya Ibu mertuaku. “Iya, emang Ibu mau mandi lagi”? candaku.  Dia langsung peluk aku dan cium pipi kananku sambil berbisik dia katakan “Mau Ibu mandiin nggak!”.  “Eh, Ibu. Emang bayi pake dimandiin segala” balasku. “Ayo sini.. biar bersih mandinya..” jawab Ibu mertuaku sambil menarikku ke kamar mandi.  Sampai kamar mandi aku taruh handukku sedangkan Ibu mertuaku membantu melapaskan bajuku. Sekarang aku telanjang bulat, dan langsung mengguyur badanku dengan air.  Ibu mertuaku melepaksan handuknya dan kita sudah benar-benar telanjang bulat bersama. Burungku mulai naik pelan-pelan melihat suasana yang seperti itu.  “Eh, belum diapa-apain sudah berdiri?” kata Ibu mertuaku sambil nyubit kecil di burungku.

Baca Juga Cerita Dewasa : Ngentot gadis SPG Elektronik yang putih mulus dan Perawan ngentot pertama  

Aku mengisut malu-malu diperlakukan seperti itu. Kuambil
sabun dan kugosok badanku dengan sabun mandi. Kita bercerita-cerita tentang
hal-hal yang kita lakukan beberapa hari ini. Si Ibu bercerita tentang
teman-temannya sedangkan aku bercerita tentang pekerjaan dan lingkungan
kantorku.  Ibu mertuaku terus menyabuni
aku dengan lembut, sepertinya dia lakukan benar-benar ingin membuatku mandi
kali ini bersih. Aku terus saja bercerita, Ibu mertuaku terus menyabuni aku
sampai ke pelosok-pelosok tubuhku. Burungku dipegangnya dan disabuni dengan
hati-hati dan lembut.  Selesai disabun
aku guyur kembali badanku dan sudah itu mengeringkannya dengan handuk. Begitu
mau pakai celana Ibu mertuaku melarang dengan menggelengkan kepalanya. Aku
lilitkan handukku dan kemudian ditariknya tanganku ke kamar tidur Ibu
mertuaku.  Sampai di kamar aku
didorongnya ke kasur dan segera dia menutup pintu kamarnya. Aku tersenyum melihatnya
seperti itu, dia lepaskan handuk di badannya dan di badanku. Burungku memang
sudah hampir total berdiri.  Selepasnya
handukku dia langsung mengulum burungku, aku terdiam melihatnya bergairah
seperti itu. Cuma sebentar dia ciumi burungku, langsung dia menaikku dan
memasukkan burungku ke vaginanya.

Dalam hati aku berpikir kalau Ibu mertuaku memang sudah
kangen banget melakukannya lagi denganku. 
Dia angkat dan dia turunkan pantatnya dengan gerakan yang stabil. aku
pegang dan remas-remas payudaranya membuat dia seperti terbang keawang-awang.  Gerakannya makin cepat dan bersuara dengan
pelan “Oh.. oh,.ahcch..”. Dan tak lama kemudian badannya menegang kencang dan
jatuh ke pelukkanku. Kupeluk dia erat-erat sambil mengatakan “Waduh.. enak
banget ya?”. “He-eh, enak” balasnya. “Emang ngeliat siapa disana sampai
begini?” tanyaku. “Ah, nggak ngeliat siapa-siapa, cuma kangen aja..” balas Ibu
mertaku.  Kali ini aku kembali bergerak,
kuciumi dia terlebih dahulu sambil kuremas payudaranya. Kubuat dia mendesah
geli dan kubangkitkan lagi gairahnya kembali. Sampai di daerah vaginanya,
kujilati dinding vaginanya sambil memainkan lobang vaginanya.  Ibu mertuaku kadang merapatkan kakinya
mendekapkan wajahku untuk masuk ke vaginanya. 
“Ayo ah.. kamu ngebuat Ibu gila nanti” kata Ibu mertuaku.  Aku beranjak berdiri dan menidurnya sambil
mengarahkan burungku masuk ke dalam vaginanya. Pelan-pelan aku goyangkan
burungku, kadang kutekan pelan dengan irama-irama lembut.  Tak lama masuk sudah burungku ke dalam dan
Ibu mertuaku mendesis kayak ular cobra. Kugoyang pantatku, kunaikkan dan
kutekan kembali burungku masuk ke dalam vaginanya.  Aku terus bergerak monoton dengan
ciuman-ciuman sayang ke arah bibir Ibu mertuaku. Ibu mertuaku hanya
mengeluarkan desahan-desahan dengan matanya yang merem melek.

Kulihat dia begitu nikmat merasakan burungku ada dalam
vaginanya.  Dia jepit pinggangku dengan
kedua kakinya untuk membantuku menekan batang burungku yang sedari tadi masih
terus mengocok lobang vaginanya.  “Aku
nggak kuat, Do..” desah ibu mertuaku. Aku semakin menambah kecepatan gerakanku
apalagi setelah Ibu mertuaku memintaku untuk keluar berbarengan, aku menggeliat
menambah erotis gerakanku. “Acchh.. sshh.. ah.. oh” desah Ibu dengan dibarengi
pelukannya yang kencang ke badanku. 
Tiba-tiba kurasakan cairanku ikut keluar dan terus keluar masuk ke dalam
vagina Ibu mertuaku. Aku benar-benar puas dibuat Ibu mertuaku, sepertinya
cairanku benar-benar banyak keluar dam membasahi lubang dan dinding vagina Ibu
mertuaku.  Ibu mertuaku masih memelukku
erat dan menciumi leherku dengan kelembutan. Aku beranjak bangun dan mencabut
batang burungku, kulihat banyak cairan yang keluar dari lobang vagina Ibu
mertuaku.  “Mungkin nggak ketampung
makanya tumpah”, kataku dalam hati. Aku pamit dan langsung ke kamar mandi
membersihkan badan serta burungku yang penuh dengan keringat serta sisa sperma
di batangku.  Itulah terakhir kali kami
melakukan perbuatan itu bersama. Sebenarnya aku berusaha untuk menghindar,
tetapi kita hanyalah manusia biasa yang terlalu mudah tergoda dengan hal itu.
Ibu mertuaku pindah ke rumah anaknya yang sulung, aku tahu maksud dan
tujuannya.  Tetapi istriku tidak
menerimanya dan berprasangka bahwa istriku tidak mampu menjaga ibunya yang satu
itu.

17 tahun Sedarah hubungan intim dalam keluarga

Ini adalah kisahku pada waktu aku masih SMP kelas tiga di
kota kembang, waktu itu aku ada liburan di rumah kakekku di daerah lembang,
disana tinggal kakek dan keluarga bibi ku. Bibiku adalah kasir sebuah bank
karena menikah dengan pamanku yang satu kantor dia mengundurkan diri dan hanya
sebagai ibu rumah tangga, orangnya ayu, putih berlesung pipit dengan usia
sekitar 27 tahunan. Dia tinggal dirumah kakekku karena rumahnya sedang dibangun
di daerah bogor sedang suaminya (adik ayahku) tinggal di kost dan pulang
seminggu sekali.  Aku dan bibiku sangat
akrab karena dia memang sering main kerumahku sewaktu belum berkeluarga dan
waktu kecil sering tidur di kamarku bahkan waktu kuliah dia lebih banyak tidur
dirumahku dari pada ditempat kostnya. Anaknya masih kecil berumur sekitar 1
tahun.  Suatu pagi aku kaget ketika
seseorang membangunkanku dengan membawa segelas teh hangat, “Bangun…. Males
amat kamu disini biasanya kan sudah nyiramin taneman sama nyuci mobil”  “Males ah, liburan masak suruh kerja juga….”  “Lha masak kakekmu yang sudah tua itu suruh
nyiramin bunga sendiri dan mobilku siapa yang nyuci…”  “Kan ada bi ijah “  “Bi ijah lagi sakit dia gak sempet…, bangun
bangun ah males ya” dicubitnya pinggangku 
“Udah udah geli ampun….” Kataku bangun sambil mendorong mukanya. 

Kakekku pulang dari jalan paginya dan asik berbincang dengan
temannya diruang tamu. Aku kemudian beranjak ke kamar mandi baru membuka baju
bibiku mengetuk pintu ”Rik mandinya di sungai sekalian temenin aku nyuci, lagi
mati lampu nih….. andi biar di jaga kakek” 
“Ya siap boss…” ku buka pintu dan membawa cucian seember besar ke
belakang rumah, bibiku mengikutiku sambil membawa handuk, pakaian ganti dan
sabun cuci. Di belakang rumah ada jalan kecil yang tembus ke sungai di pinggir
kampung sungai itu dulu sangat ramai oleh penduduk yang mandi atau mencuci tapi
sekarang sudah jarang yang memakai, hanya sesekali mereka mandi disungai.  “Sana di belakang batu itu aja, tempatnya
adem enak…” dibelakang batu itu terdapat aliran kecil dan batu batu pipih
disekelilingnya tumbuh-tumbuhan lebat itu kami bermaksud mencuci..ternyata
sudah ada seorang wanita muda yang sedang mandi mengenakan kain batik ternyata
wulan tetangga sebelah rumahku  “eh rik
tumben mau ke sungai….” Katanya ramah 
“Ya nih di paksa bos… “  “Wah
kalah duluan nih, nyuci juga kamu wul “ 
“Aku dah dari tadi.. kalo listrik mati gini baru pada ke kali, kalo gak
pakaian bayiku siapa kapan keringnya” katanya sambil keluar dari sungai dan
mengambil handuk di tepi sungai. 
Selendang batik itu membentuk lekuk tubuhnya dibagian depan terlihat
dengan jelas sembulan dua buah dada yang sangat besar, sedang ditengah leher
putihya terdapat sebuah kalung tipis yang membuat dirinya terlihat ramping, ia
kemudian membelakangi kami dan melepas selendang itu kemudian mengusapkan
handuk ke sekujur tubuhnya. 

Kontan saja aku kaget melihat pemandangan itu, walaupun
membelakangiku tapi aku dengan jelas dapat melihat seluruh tubuh putihnya itu
tanpa sehelai benangpun, bokongnya yang berisi telihat jelas setelah dia
mengusap tubuhnya kini ia mulai membasuh rambutnya yang panjang sehingga
seluruh tubunya bisa kulihat, ketika aku membasahi cucian kemudian duduk.  ”Kapan kamu kesini rik..”sambil memiringkan
tubuhnya karuan saja tetek gedhenya terlihat, aku kaget dengan
pertanyaannya.  “Apa wul aku lagi gak konsen..”
ia memalingkan badan kearahku  “Ati-ati
disungai jangan ngelamun, kamu kapan datang..” 
“Oh aku baru kemarin..” kataku sambil mencelupkan baju-baju ke air
sedang mataku tentu saja mengarah ke kedua teteknya yang tanpa sengaja
diperlihatkan,.  Bibiku bergerak menjauhi
kami, mencari tempat untuk buang air karena dari tadi dia kebelet beol.  “Anakmu umur berapa teh.. kok gak diajak “
kataku  “Masih 1 tahun setengah, tadi sama
adikku jadi aku tinggal nyuci” setelah rambutnya agak kering ia kemudian memasang
handuknya dipinggangnya dan membalikkan tubuhnya tangan kanannya menutupi
mencoba menutupi teteknya yang berukuran wah itu walaupun akhirnya yang
tertutupi cuma kedua putingnya sedang tangan kirinya mencari celana dalam di
atas batu itu setelah menemukannya, dia kemudian membalikkan badannya dan
menaikkan handuknya, celana dalam berwarna putih itu terlihat cukup tipis dan
seksi di pinggir-pinggirnya ada bordir kecil bermotif bunga.  “Anakmu siapa namanya…?” 

“Intan.. cantikkan “ ia berbalik, pakaian dalam tipis sudah
menutupi memek dan pinggangnya itu sejenak dia melihatku dan kemudian
melepaskan tangan kanannya dari teteknya sepertinya dia nyaman memperlihatkan
teteknya padaku karena dari tadi aku pura-pura cuek dan pura-pura membasuhi
baju kotor padahal adikku sedari tadi gelisah. 
Ia kemudian duduk dan membilas selendang batiknya  “Cantik sih namanya.. tapi belum lihat
wajahnya secantik emaknya gak ya..”  “Ya
pasti.. emaknya aja cantik anaknya ikut donk “katanya sombong, kusiramkan air
ke arahnya segera ia berdiri dan membalas siramanku.  “Maaf salah cetak harusnya, maknya aja jelek
apalagi anaknya…” kami pun akhirnya saling menyiramkan air setelah beberapa
saat dia kewalahan menahan seranganku. 
“Ampun ampun…” katanya sambil ketawa cengengesan, akupun menghentikan
seranganku tapi kemudian dia malah berdiri mengambil ember dan menghampiriku
menyiramku sehingga seluruh bajuku basah kuyup, aku kaget dan reflek mengambil
ember ditangannya dia kemudian membalikkan badan untuk menjauhkan darinya,
tanpa sadar tubuhku memeluknya dan satu tanganku ada pada dadanya yang terbuka.

Akhirnya aku bisa meraih ember itu, ia berusaha melepaskan
dari dekapanku tapi sia sia aku sudah siap, ku ambil air dan meletakkanya
diatas kepalanyaa  ” Ampun ri,, aku dah
mandi.. awas lo ntar tak bilangin kakekmu “ aku tetap saja memegang badannya
dan mengancam, akhirnya ia berbalik dan dengan leluasa aku menyiram ke
sekujurtubuhnya kemudian tanganku mengelus elus tubuhnya  ”nih aku mandiin lagi hehehhe,……” sekujur
tubuhnya basah termasuk celana dalamnya sehingga isi didalamnya samar samar
terlihat, kami tertawa geli dicubitnya pinggangku hingga agak lama ”aduh ampun
sakit “kataku sambil menarik tangannya, untuk beberapa saat kami saling
memandang sambil tertawa geli, kami kemudian ke tepi sungai untuk mengambil
handuk, ia kemudian kembali menyeka air ditubuhnya sementara aku sambil duduk
disampingnya sembari menyeka air di kepalaku. 

Wajahnya tampak cemberut di usapkannya handuk ke muka dan
rambutnya kemudian mulai turun ke dua buah dadanya kemudian turun ke perutnya
yang kecil kemudian turun ke selangkangannya kemudian dia merunduk dan menyeka
kakinya, kemudian melemparkan handuknya yang basah ke mukaku, aku kemudian
menggunakan handuknya itu untuk mengusap muka (lumayan aroma tubuhnya masih
nempel nih) aku kemudian mengembalikan padanya. 
Di ikatkannya handuk itu di pinggang kemudian duduk tepat di depanku dan
di turunkannya celana dalamnya, karena ikatannya kurang kuat setelah celana
dalamnya berhasil melewati kaki indahnya handuk itupun ikut terbuka sehingga
isi selangkanganya terpampang di depanku. 
“Eit…” katanya sambil tangan kanannya menutupi memeknya, aku tersenyum
“Kelihatan nih ye…” kataku sambil memalingkan muka, kakinya menendang tubuhku,
kemudian di usapkannya handuk itu ke tengah selakangannya yang masih lumayan
basah karena mengenakan celana dalam basah. 

Aku kemudian memandang kembali kearahnya nampaknya dia
merasa nyaman saja mengetahui memeknya dilihat aku, diusapkannya ke arah
rambut-rambut pubis tipisnya kemudian ia mengusap bibir-bibir coklatnya
bawahnya yang masih kencang sambil tersenyum sendiri.  “Awas bisa gila lho tersenyum sendiri…” ia
menghentikan usapannya sambil membetulkan posisinya  “Ia kalo lama-lama deket sama kamu bisa gila
…” katanya sambil berdiri  “Eh, bau …”
sambil kututup hidungku yang tepat berada didepan memeknya  “Seger lagi coba cium, katanya sambil menarik
mukaku dan menempelkannya pada memeknya yang telah ditutupi salah satu
tangannya. Tanganku mengambil tangan yang menutupinya  “Rambutnya kok gak rapi gak pernah dicukur
ya,,,,” kubelai rambut bawahnya kemudian bergerak membuka kedua bibir bawahnya
”Dah punya anak masih kenceng aja nih kulit..” kataku sambil megelus elus
memeknya dengan handuk sementara dia membalut tubuhnya dengan handuk sehingga
kepalaku berada didalamnya. 

Aku kaget dan membuka handuk sambil mencari bibiku takut
ketahuan, kepala bibiku tampak masih ada dibelakang batu besar disamping sungai
itu lagi asik membuang hajat..  “Berani
cium gak 5 Ribu deh… “ dibukanya kembali handuknya sambil tersenyum menantang,
memeknya tampak begitu menggairkan.  “Gak
ah bau tuh.. tambah deh 10 “ kataku cengengesan 
“Deal…” Katanya sambil duduk jongok Mukaku kumajukan untuk dapat mencium
memeknya, pelan-pelan kubuka bibirnya dan ku elus elus seluruh memeknya sambil
pura-pura menutup hidung seperti mau minum jamu. Kemudian ku buka mulut dan
mulai mengeluarkan lidah, wulan nampak melihat kesekeliling kemudian aku mulai
menjilat dengan pelan ke paha kanan kemudian kiri dan akhirnya menjilati memeknya
ia tampak mengerang geli,  “Ih…” katanya
pelan, lidahku yang masih menempel kemudian kumasukkan kedalam memeknya dan
menggerak gerakkan memutar sehingga ia tambah geli. Setelah kurang lebih 5
detik ku tarik mukaku.  “Memek lo bau
juga ya… mana 10 ribunya..?” ia menutupi kembali memeknya dengan handuk dan
berdiri.  “Ntar ya dirumah, mang aku bawa
dompet apa? daa…” sumpret belum puas ngotak-atik mesin bmw (bulu memek wanita)

ia sudah pergi, yah akhirnya aku hanya bisa kembali swalayan
sambil melihat ia berlalu,  * * * bibiku
akhirnya menyelesaikan BAB nya aku masih berendam bermain main di sungai sambil
mengembalikan tenaga setelah swalayan. 
Kami kemudian asyik mencuci sambil ngobrol seru-seruan, bibi mencuci
sedang aku membilasnya, sesekali kami saling menyiramkan air sehingga baju kami
basah semua akhirnya baju yang kami selesai semua aku mulai membuka semua
bajuku sehingga hanya menyisakan celana kolorku saja, sementara bibiku yang
dari tadi berhadapan denganku menggeser duduknya menyamping, kemudian menaikkan
dasternya kemudian celana dalam putih pelan pelan turun dari pahanya mulus
bibiku kemudian dia menghadap kembali padaku dengan posisi kaki lebih rapat,
tidak seperti tadi dimana kadang aku bisa melihat celana dalamnya.  “Ih celana dalamnya dah pada bolong nih…”
kuangkat celana dalamnya, bibiku segera menyambarnya  “Mana? Masih baru nih..” katanya sambil
melemparkannya kepadaku. Dia kemudian menurunkan dasternya dan mencopot kutang
dari tempatnya dan kemudian menaikkan kembali dasternya, tanpa segaja dia
membuka kakinya sehingga bulu bulu tipis samar-samar terlihat diantara pahanya
terlihat jelas didepanku, dia menunduk mencuci bhnya sehingga teteknya
menyembul diantara belahan dasternya, 
“Sini kolormu dicuci sekalian…” aku bengong mendengarnya, 

“Copot sekalian gih kolormu.. “  “Wah gak bawa celana dalam bi….” Bibiku tidak
menjawab dan memegang kolorku, akhirnya aku berdiri dan membuka pelan-pelan
kolorku sehingga adikku menampakkan diri. 
“Lho dah sunat to kamu ?” dilihatnya burungku yang masih imut-imut plus
rambut yang baru pada keluar, ku pegang burungku sambil melirik kaki bibi yang
sedikit terbuka.  “Dah lama ya kita gak
mandi bareng…” ia tersenyum  “Ia dulu
waktu masih SD kamu hanya mau mandi bareng aku mang kenapa sih ?”  “Ya milih yang cantik donk, masak sama mak
ijah kan dah pada keriput semua,…” ia kemudian membuka dasternya sehingga
seluruh tubuhnya terbuka dan menggeser duduknya menyamping.  “Sana taruh di pinggir “ aku kemudian
meletakkan cucian kemudian kembali ke tempatnya. Teteknya yang bersih dan putih
walaupun tak sebesar punya wulan terlihat masih sama seperti dulu, tubuhnya
yang putih sintal dan rambut yang tergerai membuat semua orang pasti mengakui
dia wanita ayu. 

“Ssst lihat memeknya donk bi…” ia melengos dan menutupi pangkal pahanya dengan tangan, aku menarik tangannya terlihat rambut-rambut tipis berada di tengah  “Hiii… bulunya habis dicukur ya…” ia tersenyum geli, ia kemudian menggeser duduknya sehinga tepat didepanku  “Kok tahu…. bagus kan” dibelai nya rambut pubis itu bangga  “Ya tahu lah… dulu kan lebih tebal dari ini….mang napa dicukur”  “Nggak lagi pingin aja … kalo mau dateng bulan aku biasa potong, kalo gak tak cabut pake lilin, kalo rapi kan sehat….”  Kakinya yang rapat membuat aku hanya kebagian melihat rambutnya saja.  “Lihatin donk….” Kataku sambil mengelus elus pahanya tangannya menghela tanganku dari pahanya tapi kemudian aku kembali mengelusnya setelah itu dia melihat tajam kepadaku, pelan-pelan tanganku berhasil menggeser satu kakinya sehingga memeknya sedikit terlihat.  “Wah masih sama kaya dulu ya.. walaupun dah punya anak masih terlihat kenceng punyamu” ia tersenyum mendengar bualanku dan membiarkan aku melihat seluruh isi memeknya, tanganku mulai membelai memeknya pelan kemudian mengusap-usapnya.  “Jangan nakal ah.. geli..” aku tetap saja mengelus elusnya  “Mandi sana.”

Baca Juga Cerita Dewasa Terbaru : Ku lumat memki adik ipar meski menjerit tak peduli dan malam pertama yang asik dan melelahkan

Tangannya mendorong mukaku sehingga aku terjatuh, dia
kemudian berjalan kearah air yang lebih dalam kemudian berenang renang
kecil  “Ri ambilin sabun donk…” aku duduk
mendekatinya dan mengacungkan sabun, ditariknya tanganku sehingga aku jatuh dia
tersenyum aku kemudian membalas dengan menyiramkan air kemukanya setelah
beberapa saat bercanda di dalam air ia kemudian naik ke sebuah batu untuk
membersihkan diri dengan sabun. Dengan menghadap kepadaku ia mulai meletakkan
sabunnya dileher jenjangnya, pelan pelan turun ke teteknya, kemudian ke tangan
dan kakinya dan berahir pada memeknya setelah itu dia kemudian menggosok
badannya untuk memperbanyak busa. Aku keluar dari air dan duduk di sampingnya
dia langsung menggosokkan sabun keseluruh tubuhku dari muka sampai ke kaki,
dengan santai ia menggosokkan sabun pada penisku.  “Dah gede kamu ri, burungmu dah ada
rambutnya..”  “Ya donk masak mau kecil
terus…” ia kemudian membalikkan badannya dan berdiri sambil memintaku menggosok
punggung dan bokongnya yang belum kena sabun, waktu mengosok bokongnya
pelan-pelan tanganku ku senggolkan ke memeknya nampaknya dia cuek saja dengan
terus asik menggosok tubuhnya dengan sabun, aku mulai memberanikan diri mengelus
dari belakang kedua payudaranya.

Ia membalikkan badan, membiarkan aku mengelus elus
payudaranya dan seluruh tubuhnya sementara dia mengelus kakiku dan sesekali
mengelus penisku.  Ia kemudian terduduk,
seperti biasanya kalo mandi dia selalu terdiam beberapa saat membiarkan sabun
meresap ditubuhnya. Aku yang masih berdiri didepannya dengan penis tepat di
mukanya, ia kemudian memain-mainkan penis itu, 
”Di bersihin donk ri burungnya, nih masih ada kotorannya” katanya sambil
mengelus penisku mesra aku hanya diam keenakan. Kemudian dia berbaring di atas
batu, aku duduk disamping kakinya sambil mengelus memeknya dan menyiramkan air
sehingga seluruh memeknya kelihatan. 
“Dah jangan main itu terus ah geli …” ia tersenyum menutupkan kakinya
aku kemudian menarik kakinya sehingga kini tubuhku berada diantara kakinya.
tanganku mulai menggosok-gosok lagi kali ini jariku mulai masuk ke memeknya,
dia bangun  “Geli ah li.. “tanganku kali
ini berhasil diusirnya, tanpa sadar dia mulai melihat burungku yang mulai
berkembang dan menggantung.  “Burungmu
dah mulai bisa berdiri ri…” dielusnya burungku pelan mesra, semakin lama
burungku makin besar karena tak tahan akan elusannya.  “Kamu dah pernah ngimpi basah ya.. “ aku
mengangguk kemudian  “ Bi.. kamu gak lagi
mens kan?” ia tersenyum kemudian membimbing tanganku pada dadanya  “Sini bibi ajarin ngelonin cewek…”

aku mengikuti saja bimbingan tangannya mengelus pelan
teteknya kemudian melintir putingnya. 
“yang mesra donk ri anggep aja aku cewekmu “ dia kemudian mencium pipiku
dan mendorong mukaku ke teteknya, aku ciumi semua bagian teteknya kemudian
menghisap pelan putingnya, ada air keluar dari susunya aku makin keras
menyedotnya sementara bibi mengusap kepalaku sambil merem menikmatinya.
Kemudian aku menjilati perut dan turun ke rambut memeknya, ke paha kemudian
menengelamkan mukaku ke memeknya, namun tangan bibiku mencegahnya.  “Kamu gak papa ri?” katanya pelan “Gak papa
bi, sekalian buat pengalaman  “ia
kemudian menyiramkan air ke memeknya setelah itu kucium dan kujilati memeknya
beberapa saat, sementara tanganku dibimbing untuk tetap mengelus dadanya. dia
rupanya terangsang dengan jilatanku, erangan-erangan kecil dan tekanan
tangannya pada rambutku mengisyaratkan dia sudah mulai terangsang. Merasa cukup
ku hentikan jilatanku kemudian duduk di depannya dia kemudian melek sambil
mengelus dan memutar mutan burungku. 
“Enak kan…?” ucapnya manja, aku kemudian berdiri, penisku tepat berada
di mukanya, beberapa saat dia diam kemudian ia menutup mata dan mencium
penisku  “Kalo jijik gak usah di emut …”
ia melepaskan mukanya dan kembali mengocok dengan tangannya. Ia kemudian duduk
diatas batu sambil mengangkan meminta aku memasukkan penis ke memeknya 

“ Di gesek aja ya, jangan dimasukkan.. punya pamanmu nih..”
aku kemudian menggesekkan penis ke memeknya sementara tanganku menggoda
teteknya.  “Bi sekalian masukkin ya..
biar ngajarinnya komplit..” ku masukkan tanganku ke memeknya,  “Jangan sama pacarmu saja, kasihan
perjakamu…” aku kemudian mencoba memasukkannya pada memeknya dua kali mencoba
ternyata penisku belum bisa tembus juga, bibiku tersenyum geli  “Tuh kan gak bisa, sini…” ditariknya penisku,
di elus kemudian dimasukkan dalam memeknya, rasanya sempit sekali memeknya,
baru setengah penis masuk bibiku mengeluarkan kembali  “Susah kan… makanya pelan pelan” ia kembali
memasukkan, kali ini lebih dalam, ia kembali menarik tubuhnya sehingga penisku
lepas. Tanganya lepas dari penisku, tanganku yang mau mengarahkan penisku di
tariknya menandakan dia pingin aku memasukkan tanpa bantuan.  Dua kali mencoba tidak berhasil lagi akhirnya
bibiku yang memajukan memeknya, sekali maju langsung masuk,  “uh…. Enak bi …” ia kemudian menggoyang
pinggulnya memberikan tekanan keluar masuk pada penisku, aku merem melek
menahan enak sambil membantunya mengelus tubuhnya,  “Ayo bagianmu…” ia kemudian pasif membiarkan
aku melakukan keinginanku ku.

Aku masukkan sampai semua penisku masuk kemudian bergerak
pelan semakin lama semakin cepat menggoyang maju mundur.  “Bagus ri.. ayo.. ah…. ah… terus sayang….”
aku menurutinya beberapa saat dia meminta aku mengganti posisi kini dia
menungging di depanku dengan sigap kumasukkan penisku berulang ulang  ‘oh yes … enak bi… enak….” Lima menit
kemudian ia memintaku duduk dia berdiri dihadapanku memeknya kuciumi sebentar
kemudian dia menduduki kakiku,  “ayo aku
dah mau nyampe… kamu mau nemenin kan…” dia kemudian memasukkan memeknya dan
bergerak turun naik sementara muka dan tanganku memegang teteknya  “bii…. Jangan cepet-cepet aku gak kuat
nanti…”  “Ayo sayang … bibi juga gak lama
lagi ..” aku melepas tangan dari susunya dan berkonsentrasi menahan goyangan
maut memek bibiku..  “uh.. ah… “
bergantian kami mengucapkannya  “Stop bi…
aku mau keluar …” aliran-aliran listrik seakan menjalar ditubuhku.. bibi
melepaskan memeknya, kemudian mengocok penisku dalam hitungan ke lima air
maniku benar benar keluar  “crot,,,,”
mengarah pada tubuhnya.. Aku lemas sambil menyedot tetek bibiku aku mengatur
nafas setelah berhasil mencapai puncak 
“Wiih enak banget bi…. Yes……” kataku pelan, ia tersenyum dan mencium
pipiku sambil mengelus-elus teteknya, setelah beberapa istirahat bibiku
menuangkan air ke mukaku 

“udah mandi yuk…” aku menarik tangannya  “Makasih ya bi… maaf kebablasan” ia tersenyum  “Ayo tak bantu nyampe puncak..” kataku sambil mengelus memeknya, aku kemudian mencium tetek kemudian memeknya, aku kemudian memasukkan jariku pada memeknya ia merem melek kemudian aku memasukkan berkali-kali dan menggelitik memeknya, ia benar-benar terangsang. Tangannya memegang penisku yang sudah tidak kencang lagi kemudian mengarahkan mukanya pada penisku, semakin lama goyangan tangan ku makin kencang, sampai akhirnya bibiku mengerang ngerang kemudian memasukkan penis pada mulutnya.. ia menggelinjang dan ahirnya dia berteriah “uhhhhhhh,,,,,,” dilepaskannya penisku dan berguling di batu itu,

ku belai rambutnya menemani menuruni puncak kenikmatan.  Kemudian kami berdua masuk kembali ke air membersihkan sisa sabun  “ Jangan diulang ya… sekali aja “ katanya sambil mencubit paha depanku  “Ya deh bi,, kalo kuat ya.. tapi kalo lihat tubuh bahenol ini kayaknya aku gak tahan” kucium tengkuk bibi sambil mengelusnya, dia membalas “Janji ya, jangan goda aku lagi…” aku diam sambil memeluknya..  Demikianlah cerita seks panas Aku jadi budak seks bapak Mertua yg buas dan 17 tahun Sedarah hubungan intim dalam keluarga oleh cerita sex hot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *