AKU JADI BUDAK SEX PEMUAS NAFSU IBU MUDA dan DI BUNTINGIN ADIK KANDUNG, Update 2023 – jose-goncalves.com
Mon. Jan 30th, 2023

AKU JADI BUDAK SEX PEMUAS NAFSU IBU MUDA dan DI BUNTINGIN ADIK KANDUNG

Cerita Mesum Hot – cerita bokep ini adalah cerita seks yang akan menceritakan kisah seks seorang pemuda yang menjadi pemuas nafsu seks Ibu muda Jakarta yang kesepian dan butuh kehangatan laki-laki. Ini merupakan kisah nyata pengalaman seks yang ditulis seseorang lalu dikirim ke situs ini, seperti apa cerita dewasa ini silakan simak sendiri… Segala cerita kencan seks yang ku baca di internet, semula kukira hanyalah bohong-bohongan belaka. Namun, setelah memanfaatkan milis internet, aku baru bisa percaya. Sebab, aku memang bisa dapet teman kencan untuk making-love. Setelah menyimak daftar nomor HP wanita-wanita’yang butuh teman kencan melalui SMSdate aku segera menyebar SMS perkenalan.

Hasilnya, SMSku dapat jawaban dari seorang wanita 33 tahun asal Jakarta (sebut saja namanya Gadis). Awalnya, dia merasa terkejut dan mengaku tak pernah mencari teman kencan pria lewat SMS. Namun setelah berdialog beberapa saat, akhirnya dia mengakui bahwa dirinya adalah seorang wanita yang kesepian. Bahkan, dia malah memintaku datang ke Jakarta dan segala biaya akan dijamin.  Tanpa pikir panjang, aku menyatakan siap. Dengan memanfaatkan jasa kereta cepat Argolawu jurusan KotaX-Jakarta, aku bisa melesat ke Stasiun Gambir Jakarta. Seperti yang dia pesan, aku diminta menunggu di peron Stasiun. Cukup lama, aku menunggu sendiri di peron, hampir satu jam hanya duduk memandang orang-orang berlalu-lalang. Semula aku hampir putu asa dan curiga, jangan-jangan aku hanya dikerjai. Ketika matahari sudah lenyap dan langit Jakarta sudah gelap, ketika aku memutuskan untuk pergi dari Stasiun Gambir (karena merasa dikerjai), tiba-tiba ada seorang wanita tua yang menghampiriku. Wanita yang mirip nenek-nenk itu menyampaikan pesan bahwa aku telah ditunggu wanita bernama Gadis di sebuah taksi yang berhenti di halaman parkir. Karuan saja, perasaan dadaku jadi plong. Seketika itu aku lari mencari taksi tersebut. Begitu aku membuka pintu taksi, Oh.. dadaku berdetak. Wanita kencan SMSku itu ternyata tidak setua usianya.

Baca Juga Cerita Seks Terpanas : KECANDUAN DENGAN PEJU YANG KELUAR DARI KEMALUAN ANAK ABG dan KISAH PANAS ANAK KOST BELAKANG

Tubuhnya terlalu tinggi bagiku, sekitar 170cm, sedang aku
hanya 165cm. Kulitnya putih layaknya etnis Tionghoa. “Ayo, masuk..,” pinta
wanita berambut sebahu itu sembari memberi ruang duduk di sampingnya. Wajahnya
tampak gembira sekali ketika menatap wajahku. “Ke Hotel XX, ya Bang,” ujar
Gadis kepada sang pengemudi taksi.  Di
dalam taksi, duduk berhimpitan bersama Gadis, aku seperti dibawa terbang ke
awang-awang. Betapa tidak, tubuhnya super montok. BRA-nya kira-kira berukuran
36. Dan pinggulnya, wah membuatku benar-benar gemas. Sementara tatapan matanya,
seolah ada rasa dahaga yang tertahan bertahun-tahun. Hmm.. rasanya itu
membuatku tak sabar untuk melumatnya. Karena itu, begitu tiba di hotel aku
bergegas chek-in dan membogkar rahasia perasaanku di kamar nomor 102. Di kamar
hotel 102, di antara lampu remang-remang, Gadis hanya termangu memandangiku.
Matanya meneliti leku-lekuk tubuhku yang maih basah habis mandi. “Sini sayang,
aku pijiti. Pasti, kau capek sekali, kan,” ujar Gadis kemudian. Tanpa banyak
kata, akau hanya menurut saja. Maklum tubuhku capek sekali setelah menempuh
perjalanan KotaX-Jakarta. Kalau dipijiti, oh.. rasa pegal di tubuhku akan
hilang. Karena itu, aku segera tidur tengkurang di ranjang dengan setengah
telanjang di dekat Gadis. “Bagian mana dulu yang dipijit sayangku,” suara Gadis
yang mendesah membuat darahku mendesir-desir. “Terserah kaulah,” jawabku
singkat.  Tak lama kemudian, jemari
lentiknya sudah menelusuri lekuk-lekuk tubuhku. Kadang-kadang tangan Gadis
nakal menggoda bagian sensitifku. Urutannya lembut, seperti menyulam setiap
pori-pori kulitku. Beberapa saat kemudian, aku ganti menawarkan diri untuk
memijit tubuh gadis yang super montok. Seperti yang dia lakukan padaku tadi,
aku mulai mengurut-urut bagian lehernya, kemudian turun ke punggung, pinnggang
dan paha. Setelah itu tubuhnya ku balik sehingga tidak tengkurap lagi. Kali ini
aku mengurut bagian payudaranya dengan lembut. Selanjutnya aku mulai beraksi
erotik. Awalnya saya membelai rambut Gadis dan mencium bibir-nya. Dia
membalasnya dengan hangat, penuh kasih sayang. 
Kurebahkan dia dengan perlahan, kutatap matanya erat-erat, kusingkirkan
bajunya yang menutupi buah dadanya, yang sungguh merangsang diriku.

Perlahan tapi pasti kulumat puting susu-nya dan dengan tangan
kiriku kumainkan puting yang satunya lagi. Gadis melenguh keenakan, sungguh
suara yang merdu dan hal ini membuatku grenng lagi. Selang beberapa menit
kemudian kuangkat kepalaku sambil tetap kumainkan tangan kiriku, kemudian
kulihat pussy Gadis yang basah. Kulumat clitorisnya dan semua ruang vaginanya
hingga Gadis menggelinjang berat. Ketika penisku menegang gagah perkasa,
kurenggangkan kedua pahanya dan kumasukkan jariku ke lubang pussynya,
kuputar-putar dan kusodok-sodokkan, Gadis pun semakin mengerang keras, sampai
kusadari kalau waktu kusodokkan di bagian kanan atas, eluhannya semakin keras
dan cairannya makin banyak, penasaran kupusatkan jariku di situ dan
kugosok-gosok bagian tersebut ternyata Gadis pun berteriak makin keras.  Cairannya keluar banyak sekali, aku pun mulai
grenng tidak sabar, kuangkat kontolku dan kusodokkan ke lubang pussynya dengan
cepat, kali ini aku sodokkan terus menerus tapi rupanya kontolku masih
membutuhkan waktu untuk reload sehingga spermaku tidak lekas keluar.  Gadis masih mengerang dengan kerasnya, dan
kusodokkan penisku ke bagian kanan atas, dan yah dia pun makin melenguh keras,
dan kurasakan cairannya menyembur-nyembur dengan derasnya, aku makin grenng dan
kulihat wajahnya yang khas, wajah yang penuh kepuasan dan erangan penuh
kenikmatan yang merdu, yang membuat kontol laki-laki manapun tidak tahan, dan
akupun keluar lagi dengan deras di pussy Gadis. Ketika aku terbangun dari
tidur, sekitar tengah malam, Gadis telah menyediakan kopi panas dan duduk di
sebelah ranjang. Tapi hasratku masih menggelora. Tidak bisa tidak aku harus
beraksi lagi. Maklum, aku hanya bisa berada di Jakarta hanya sehari. Sayang
kalau hanya sekali main di panggung ranjang panas. Karena itu, setelah
mencicipi kopi aku segera membuka kancing BH-nya kulepaskan. Tanganku bergerak
bebas mengusap buah dadanya. Putingnya kupegang dengan lembut. Kami sama-sama
hanyut dibuai kenikmatan walaupun kami masih berdiri bersandar di dinding. Kami
terangsang tak karuan. Nafas kami semakin memburu. Aku merasa tubuh Gadis
menyandar ke dadaku. Dia sepertinya pasrah. Baju daster Gadis kubuka. Di dalam
cahaya remang dan hujan lebat itu, kutatap wajahnya. Matanya terpejam. Daging
kenyal yang selama ini terbungkus rapi menghiasi dadanya kuremas
perlahan-lahan. Bibirku mengecup puting buah dadanya secara perlahan.  Kuhisap puting yang mengeras itu hingga
memerah. Gadis semakin gelisah dan nafasnya sudah tidak teratur lagi. Tangannya
liar menarik-narik rambutku, sedangkan aku tenggelam di celah buah dadanya yang
membusung. Mulutnya mendesah-desah.

“Ssshh.., sshh!”.  Puting payudaranya yang merekah itu kujilat berulangkali sambil kugigit perlahan-lahan. Kulepaskan ikatan kain di pinggangnya. Lidahku kini bermain di pusar Gadis, sambil tanganku mulai mengusap- usap pahanya. Ketika kulepaskan ikatan kainnya, tangan Gadis semakin kuat menarik rambutku. Suaranya melenguh-lenguh. Nafasnya terengah-engah ketika celana dalamnya kutarik ke bawah. Tanganku mulai menyentuh lagi daerah kemaluannya. Rambut halus di sekitar kemaluannya kuusap-usap perlahan. Ketika lidahku baru menyentuh kemaluannya, Dia menarikku berdiri. Pandangan matanya terlihat sayu bagai menyatakan sesuatu. Pandangannya ditujukan ke tempat tidurnya.  Aku segera mengerti maksudnya. Dia minta ingin segera digenjot di atas ranjang. Dengan sebuah tarikan, tubuh Gadis kubaringkan terlentang, tapi kakinya masih menyentuh lantai. Mukanya berpaling ke sebelah kiri. Matanya terpejam. Tangannya mendekap kain sprei. Buah dadanya membusung seperti minta disentuh. Puting susunya terlihat berair karena liur hisapanku tadi. Perutnya mulus dan pusarnya cukup indah. Kulihat tidak ada lipatan dan lemak seperti perut wanita yang telah melahirkan. Kemudian, tanganku terus membuka kancing bajuku satu-persatu. Ritsluiting jeans-ku kuturunkan. Aku telanjang bulat di hadapan Gadis. Penisku berdiri tegang melihat kecantikan sosok tubuh Gadis.  Buah dada yang membusung dihiasi puting kecil dan daerah di bulatan putingnya kemerah-merahan. Indah sekali kupandang di celah pahanya. Gadis telentang kaku. Tidak bergerak. Cuma nafasnya saja turun naik. Lalu akupun duduk di pinggir kasur sambil mendekap tubuhnya. Sungguh lembut tubuhnya. Kupeluk dengan gemas sambil kulumat mesra bibir ranumnya. Tanganku meraba seluruh tubuhnya. Sambil memegang puting susunya, kuremas-remas buah dada yang kenyal itu. Kuusap-usap dan kuremas-remas. Nafsuku terangsang semakin hebat. Penisku menyentuh pinggangnya. Kudekatkan penisku ke tangannya. Digenggamnya penisku erat-erat lalu diusap-usapnya.  Memang Gadis tahu apa yang harus dilakukan. Dipegangnya penisku yang sudah tegang dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Mataku terpejam-pejam ketika lidah Gadis melumat kepala penisku dengan lembut. Penisku dikulum sampai ke pangkalnya. Sukar untuk dibayangkan betapa nikmatnya diriku. Bibir Gadis terasa menarik-narik batang penisku.  Tidak tahan diperlakukan begitu aku lalu mengerang menahan nikmat. Kubuka lebar-lebar paha Gadis sambil mencari liang vaginanya. Kusibakkan vaginanya yang telah basah itu. Kujulurkan lidahku sambil memegang clitorisnya. Gadis mendesah. Kujilat-jilat dengan lidahku. Kulumat dengan mulutku. Liang kemaluan Gadis semakin memerah. Bau kemaluannya semakin kuat. Aku jadi semakin terangsang. Seketika kulihat air berwarna putih keluar dari lubang vaginanya. Tentu Gadis sudah cukup terangsang, pikirku. Aku kembali pada posisi semula. Tubuh kami berhadapan. Tangannya menarik tubuhku untuk rebah bersama. Buah dadanya tertindih oleh dadaku.

Baca Juga Cerita Bokep Seks : DESI SEKRETARISKU YANG DOYAN NGENTOT dan TUGAS PELAJAR KEDOKTERAN

Gadis memperbaiki posisinya ketika tanganku mencoba mengusap-usap pangkal pahanya. Kedua Kaki Gadis mulai membuka sedikit ketika jariku menyentuh kemaluannya. Lidahku mulai turun ke dadanya. Putingnya kuhisap sedikit kasar. Punggung Gadis terangkat-angkat ketika lidahku mengitari perutnya.  Akhirnya jilatanku sampai ke celah pahanya. Gadis semakin membuka pahanya ketika aku menjilat clitorisnya, kulihat Gadis sudah tidak bergerak lagi. Kakinya kadang-kadang menjepit kepalaku sedangkan lidahku sibuk merasakan kenikmatan yang telah dirasakan. Erangan Gadis semakin kuat dan nafasnya pun yang terus mendesah. Rambutku di tarik-tariknya dengan mata terpejam menahan kenikmatan. “Gimana rasanya?” tanyaku lembut dengan nada manja.  Dia tidak menjawab. Dia hanya membuka matanya sedikit sambil menarik napas panjang. Aku mengerti. Itu bertanda dia setuju. Tanpa disuruh, aku mengarahkan penisku ke arah lubang vaginanya yang kini telah terbuka lebar. Lendir dan liurku telah banjir di gerbang vaginanya. Kugesek-gesekan kepala penisku di cairan yang membanjir itu. Perlahan- lahan kutekan ke dalam. Tekanan penisku memang agak sedikit susah. Terasa sempit. Kulihat Gadis menggelinjang seperti kesakitan. “Pelan-pelan, Yang!”, ujarnya berharap, suaranya terdengar sesak.  Aku sekarang mengerti. Memang aku belum berpengalaman. Kutekan lagi. Kumasukkan penisku perlahan-lahan. Kutekan punggungku ke depan. sangat hati-hati. Terasa memang sempit. Lalu Gadis memegang lenganku erat-erat. Mulutnya meringis seperti orang sedang menggigit tulang. Hanya sebagian penisku yang masuk. Kubiarkan sebentar penisku berhenti, terdiam. Gadis juga terdiam. Tenang. Sementara itu, kupeluk tubuhnya dengan gemas sambil memainkan buah dadanya, menjilat, mengusap dan menggigit-gigit lembut. Mulutnya kukecup sambil lidahnya kumainkan. Kami memang sudah sangat bernafsu dan terangsang. “Mau diteruskan..?” tanyaku kemudian.  Gadis membuka matanya. Di bibirnya terlihat senyum manis yang menggairahkan. Kutekan penisku ke dalam. Kemudian kutarik ke belakang perlahan-lahan. Kuhentakkan perlahan-lahan. Memang sempit kemaluan Gadis, mencengkram seluruh batang penisku. Penisku terasa seperti tersedot di dalam vaginaya. Kami mulai terangsang! Penisku mulai memasuki kemaluan Gadis lebih lancar. Terasa hangatnya sungguh menggairahkan. Mata Gadis terbuka menatapku dengan pandangan yang sayu ketika penisku mulai kukeluar-masukkan. Bibirnya dicibirkan rapat-rapat seperti tidak sabar menunggu tindakanku selanjutnya. Sedikit demi sedikit penisku masuk sampai ke pangkalnya.  Gadis mendesah dan mengerang seiring dengan keluar-masuknya penisku di kemaluannya. Kadang-kadang punggung Gadis terangkat-angkat menyambut penisku yang sudah melekat di kemaluannya. Berpuluh-puluh kali kumaju-mundurkan penisku seiring dengan nafas kami yang tidak teratur lagi. Suatu ketika aku merasakan badan Gadis mengejang dengan mata yang tertutup rapat. Tangannya memeluk erat-erat pinggangku. Punggungnya terangkat tinggi dan satu keluhan berat keluar dari mulutnya secara pelan. 

AKU JADI BUDAK SEX PEMUAS NAFSU IBU MUDA dan DI BUNTINGIN ADIK KANDUNG

Denyutan di kemaluannya terasa kuat seakan melumatkan
penisku yang tertanam di dalamnya. Goyanganku semakin kuat. Lehernya kurengkuh
erat sambil badanku rapat menindih badannya. Ketika itu seolah-olah aku
merasakan ada denyutan yang menandakan air maniku akan keluar. Denyutan yang
semakin keras membuat penisku semakin menegang keras. Gadis mengimbanginya
dengan menggoyangkan pinggulnya. Goyanganku semakin kencang. Kemaluan Gadis
semakin keras menjepit penisku. Kurangkul tubuhnya kuat-kuat. Dia diam saja.
Bersandar pada tubuhku, Gadis lunglai seperti tidak bertenaga. Kugoyang terus
hingga tubuh Gadis seperti terguncang-guncang. Dia membiarkan saja perlakuanku
itu. Nafasnya semakin kencang.  Dalam
keadaan sangat menggairahkan, akhirnya aku sampai ke puncak. Air maniku muncrat
ke dalam kemaluan Gadis. Bergetar badanku saat maniku muncrat. Gadis mengait
pahaku dengan kakinya. Matanya terbuka lebar memandangku. Mukanya serius. Bibir
dan giginya dicibirkan. Nafasnya terengah-engah. Dia mengerang agak kuat. Waktu
aku memuntahkan lahar maniku, tusukanku dengan kuat menghunjam masuk ke dalam.
Kulihat Gadis menggelepar-gelepar. Dadanya terangkat dan kepalanya mendongak ke
belakang. Aku lupa segala-galanya.  Untuk
beberapa saat kami merasakan kenikmatan itu. Beberapa sodokan tadi memang
membuat kami sampai ke puncak bersama- sama. Memang hebat. Sungguh puas. Memang
inilah pertama kalinya aku melakukan senggama dengan orang lain selain istriku.
Walaupun dia seorang janda yang sudah berumur, bagiku dia adalah wanita yang
sangat cantik. Waktu kami melakukan senggama tadi, kami berkhayal entah kemana.
Gadis memang hebat dalam permainannya. Sebagai seorang yang tidak pernah
merasakan kenikmatan persetubuhan dengan orang lain selain istriku, bagiku
Gadis betul-betul memberiku surga dunia. Aku terbaring lemas di sisi Gadis.
Mataku terpejam rapat seolah tidak ada tenaga untuk membukanya. Dalam hati aku
puas karena dapat mengimbangi permainan ranjang Gadis. Kulihat Gadis tertidur
di sebelahku. Dia mengaku puas sekali. 
“Kamu memang hebat, penismu luar biasa..!”, katanya dengan nada meronta.
Anehnya, ketika aku merasa capek, Gadis malah mengocokkan batang penisku.
Suaranya mengiba-iba membangkitkan gairahku. “Kau suka?”, tanyaku.  Dia tersenyum. Dia mengangguk tanda suka.
Saat itu juga tanganku memegang buah dadanya. Tangannya mengocok terus penisku.
Penisku tegang lagi. Kami jadi terangsang lagi. “Kau mau lagi?”, tanyaku dengan
suara manja.  Dia tersenyum manis. Apa
yang kuimpikan kini benar-benar menjadi kenyataan. Perlahan-lahan kubuka
selimutnya. Kulihat kaki Gadis sudah mengejang. Sedikit demi sedikit terus
kutarik selimutnya ke bawah. Segunduk daging mulai terlihat. Uff.., detak
jantungku kembali berdegup kencang. Kunikmati kembali tubuh Gadis tanpa
perlawanan. Gundukan bukit kecil yang bersih, dengan bulu-bulu tipis yang mulai
tumbuh di sekelilingnya, tampak berkilat di depanku. Kurentangkan kedua kakinya
hingga terlihat sebuah celah kecil di balik gundukan bukit Gadis.  Kedua belahan bibir mungil kemaluannya
kubuka.

Melalui celah itu kulihat semua rahasia di dalamnya. Aku
menelan air liurku sendiri sambil melihat kenikmatan yang telah menanti.
Kudekatkan kepalaku untuk meneliti pemandangan yang lebih jelas. Memang indah
membangkitkan birahi. Tak mampu aku menahan ledakan birahi yang menghambat
nafasku. Segera kudekatkan mulutku sambil mengecup bibir kemaluan Gadis dengan
bibir dan lidahku. Rakus sekali lidahku menjilati setiap bagian kemaluan Gadis.
Terasa seperti tak ingin aku menyia-nyiakan kesempatan yang dihidangkannya.
Setiap kali lidahku menekan keras ke bagian daging kecil yang menonjol di mulut
vaginanya, Gadis mendesis dan mendesah keenakan. Lidah dan bibirku menjilat dan
mengecup perlahan. Beberapa kali kulihat dia mengejangkan kakinya. Aku tak
peduli bau khas dari liang kemaluan Gadis memenuhi relung hidungku. Malah
membuat lidahku bergerak semakin menggila. Kutekan lidahku ke lubang kemaluan
Gadis yang kini sedikit terbuka. Rasanya ingin kumasukkan lebih dalam lagi,
tapi tidak bisa.  Mungkin karena lidahku
kurang keras. Tetapi, kelunakkan lidahku itu membuat Gadis beberapa kali
mengerang karena nikmat. Dalam keadaan sudah terangsang, kutarik tubuh Gadis ke
posisi menungging. Ia menuruti permintaanku dan bertanya dengan nada manja.
“Aku kau apakan, sayang?”, bisiknya.  Aku
diam saja. Kuatur posisinya. Tangannya meremas sprei hingga kusut. Air mani
Gadis sudah membasahi kemaluannya. Kubuka pintu kemaluannya. Kulihat dan
perhatikan dengan seksama. Memang aku tidak pernah melihat kemaluan wanita
serapat itu.  Bau anyir dan bau air
maniku bercampur dengan bau asli vagina Gadis yang merangsang. Bau vagina
seorang wanita! Jelas semua! Bulu kemaluan Gadis yang lembab dan melekat
berserakan di sekitar vaginanya. Kusibakkan sedikit untuk memberi ruang.  Kumasukkan jari telunjukku ke dalam lubang
vaginanya. Kumain-mainkan di dalamnya. Kulihat Gadis menggoyang punggungnya.
Kucium dan kugigit daging kenyal punggungnya yang putih bersih itu. Kemudan
kurangkul pinggangnya. Kumasukkan penisku ke liang vaginanya. Pinggang Gadis
seperti terhentak. Perlahan-lahan kutusukkan penisku yang besar panjang ke
lubang vaginanya dengan posisi “doggy-style”. Tusukanku semakin kencang. Nafsu
syahwatku kembali sangat terangsang. Kali ini berkali-kali aku mendorong dan
menarik penisku. Hentakanku memang kasar dan ganas. Kuraih pinggang Gadis.
Kemudian beralih ke buah dadanya. Kuremas-remas semauku, bebas. Rambutnya acak-acakan.
Lama juga Gadis menahan lampiasan nafsuku kali ini. Hampir setengah jam.  Tusukanku memang hebat. Kadang cepat, kadang
pelan. Kudorong-dorong tubuh Gadis. Dia melenguh. Dengusan dari hidungnya
memanjang. Berkali-kali.

Seperti orang terengah-engah kecapaian. “Ehh.. ek, Ekh, Ekh.”  Akirnya aku merasakan air maniku hampir muntah lagi. Waktu itu kurangkul kedua bahu Gadis sambil menusukkan penisku ke dalam. Tenggelam semuanya hingga ke pangkalnya. Waktu itulah kumuntahkan spermaku. Kutarik lagi, dan kuhunjamkan lagi ke dalam. Tiga empat kali kugoyang seperti itu. Gadis terlihat pasrah mengikuti hentakanku. Kemudian kupeluk tubuhnya walaupun penisku masih tertancap di dalam kemaluannya. Kuelus-elus buah dadanya. Kudekati mukanya. Kami berciuman. Begitu lama hingga terasa penisku kembali normal. Gadis sepertinya kelelahan. Keringat bercucuran di dahi kami. Kami telentang miring sambil berpelukan. Gadis terlihat lemas lalu tertidur. Melihat Gadis begitu, dan hujan masih belum reda, birahiku bangkit kembali. Kurangkul tubuh Gadis dan aku bermain sekali lagi. Tak terasa, kami berdua seperti bermandikan air mani. Setelah itu, kami terkapar berdua.  Ketika aku bangun hari sudah siang. Sekitar jam 12.00 aku buru-buru chek-out dan pulang ke KotaX. Ternyata Gadis masih mau kencan lagi denganku. Tapi entah kapan waktunya, dia belum memastikan dan akupun belum memikirkannya.  “Kau memang lelaki KotaX tulen. Tenang-tenang menghanyutkan. Lemah lembut, tapi luar biasa dahsyat,” bisik Gadis ketika mengantarku ke Stasiun Gambir.

Baca Juga Cerita Seks Panas : PACARKU DAN TUKANG OJEK dan TEMPAT PEMANDIAN

DI BUNTINGIN ADIK KANDUNG

Sudah ada tiga bulan suamiku mengikuti pendidikan untuk
mendapatkan alih golongan, Terasa aku begitu gersang, Aku butuh sentuhan
seorang laki-laki, terlebih pada malam seperti ini. Haruskah aku mencarinya?
Tapi bagaimana caranya?  Malam itu aku
tak bisa berbuat apa-apa selain berusaha menghilangkan kebutuhanku akan seks.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00. Sebentar lagi ayam akan berkokok. Tapi
mataku belum juga terpejam. Aku keluar dari kamarku, hanya mengenakan daster
miniku. Aku ke kamar mandi karean kamar mandi kami hanya satu dari type rumah
45 itu. Karean udara sangat gerah, aku hanya memakai daster mini yang tipis,
tanpa celana dlaam dan Bra. AKu mau keluar dari kamar mandi, aku mendengar ada
orang menuangkan air dari termos. Mungkin mau membuat teh atau kopi. Dari
suaranya aku tau, dia adalah Marwan. Adikku yang tingal bersamaku sejak setahun
lalu.  “Kamu belum tidur, Mar..?”
tanyaku. “Belum. Masih banyak tugas yang belum selesai. Besok harus kumpul,”
jawabny tenang. Tatapannya tenang, namun terasa sangat tajam ke sekujur
tubuhku. Marwan memakai celana pendek saja, bertelanjang dada. Aku terkesiap
melihat dadanya yang bidang. Marwan berusia 20 tahun, mahasiswa arsitektur.
Usiaku lima tahun di atasnya.  Lampu
memang terang berderang di dapaur kami. Pakaianku yang tipis tanpa kusadari,
membuatnya terus tak berkedip. Saat aku sadar kalau tubuhku dari balik daster
mini yang tipis pelepas gerah itu, membuatnya matanya tak berkedip, justru
sebaliknya aku menjadi semakin bergairah. Tapi… Marwan adalah adikku. Adik
kandungku. Tapi aku sangat membutuhkan sentuhan laki-laki. Tiga hari ini, aku
begitu membutuhkannya. Tapi kali ini, aku begitu sangat dan sangat
membutuhkannya. Tubuhku sedikit menghangat. Gairah seks ku sangat tinggi malam
itu. Tanpa ragu kudekati adikku. Kurangkul dia dari belakang dan merapatkan
tetekku ke punggungnya. Entah darimana datangnya keberanianku itu.  “Mbaaakkk….” Hanya itu yang terdengar dari
mulutnya. Aku meneruskan elusanku ke dadanya dari belakang, sembari
menggesek-gesekkan tetekku ke pungungnya.

AKu begitu menikmatinya. Dasterku memang sangat tipis dan
longgar. Kuciumi tengkuknya dan Marwan hanya mendesah saja, tidak
menolakku.udah tak perduli, apakah dia menolak atau tidak. Tanganku terus
meraba perutnya dan menyelusup ke dalam celananya. Baeru saja tanganku memasuki
celana pendeknya, aku mengetahui, kalau Marwan tidak memakai celana dalam.
Langsung tanganku menyentuh jembutnya dan terus makin ke bawah mengelus
kontolnya.  “Mbaaakkk…” Kulepaskan kancing
celana dan memelorotkan celana itu sampai ke bawah. “Ayo lepaskan dahagi Mbak,
dik. Mbak sangat membutuhkannya malam ini,” [pintaku menghiba. Kulepas
peljukanku sesaat dan kulepas dasterku. AKu sudah bertelanjang bulat
dihadapannya dan celananya sudah kulepas dari tubuhnya.  Kuhadapkan tubuhnya dan aku memaluknya.
Tetekku begitu rapat ke dadanya. Kujilati tengkuknya dan kubelai-belai tubuhnya
dengan lembut. “Ayo…dong…” “Di sini?” tanyanya. Aku mengerti apa maksudnya.
Dengan cepat kutarik tangannya ke kamarnya, agar dua anakku yang masih sangat
kecil tidur bersamaku di kamar tidurku tidak terganggu. Cepat kututup pintu.
Langusng kupeluk dirinya dan kulumat bibirnya dengan buas. AKu sudah tak
perduli siapa dia, adik kandungku sendiri. Aku tahu, vaginaku sudah sangat
basah. Kuraba kontolnya yang juga sudah mengeras. Marwan membalas ciumanku.
Lidahku diisapnya dengan lembut dan dipermainkannya dalam mjulutnya. Aku senang
sekali. Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku merasakan sekujur
tubuhnya menghangat.  “Ayo Mar,
dimasukkan cepat. Aku sudah sangat….” Adikku secepatnya membimbingku ke tempat
tidurnya berukuran 3 kaki. Aku sudah terlentang. Ingin aku kontolnya yang keras
itu menghunjam-hunjam vaginaku dengan kuat. Tapi Marwan, justru mengangkangkan kedua
pahaku dan mulutnya menjilati vaginaku. Lidahnya bermain-main di lubang
vaginaku. Aku tak mampu menahan rasa nikmatku. Kujepit kepalanya dengan kedau
kakiku dengan sekuat-kuatnya. Aku orgasme. Kuremas kepalanya sekuat-kuatnya dan
aku mendesah panjang. Lidahnya masih juga terus bermain di vaginaku. Tak lama
aku lemas. Kuserahkan segalanya kepadala adikku, apa maunya. Marwan melapas
jilatannya dari vaginaku. Kini aku sudah ditindihnya. Perlahan dan pasti, dia
mencucukkan kontolnya yang keras ke dalam vaginaku. Oh…terasa kontol itu
memenuhi rongga vaginaku. Hangat dan keras. Gesekannya begitu mengairahkan.
Leherku dijilatinya dan tetekku dielus-elusnya. Perlakuannya itu, membuatkua
bergairah kembali. Perlahan, kuimbangi permainannya. 

“Sudah lama aku menginginkan ini…” bisik Marwan adikku ke
telingaku. “Kenapa kamu tidak bilang…?” bisikku pula di sela-sela ayunan kedua
kakiku menggoyang kontolnya dalam vaginaku. “Aku takut, Mbak…” “Ya…sudah, mulai
malam ini aku menjadi milikmu. Kita boleh melepaskan keindahan dan kenikmatan
ini sepuas-puasnya jika ada kesempatan,” bisikku.  Marwan terus mempermainkan kontolnya
keluar-masuk dalam liag vaginaku. Aku merasakan tubuhku berada di awang-awang.
Tinggi dan penuh sensasi. “Mbaaakkk…” rintihnya. “Terus sayang. Mbak sudah mau
sampai,” bisikku memohon. Adikku memompa tubuhku lebih cepat dan lebih agresif
lagi. Dipeluknya aku kuat-kuat dan ditekannya sekuat-kuatnya ke dalam vaginaku.
AKu merasakan ujung kontol itu, sudah kandas di ujung lubang vaginaku. AKu
menjepit kembali pinggangnya dengan kedua kakiku sekuat-kuatnya dan membalas
pelukannya sekuat-kuatnya pula. “Ah….. Mbaaaakkkkk…” “Diiiikkkkk…. kita
sampaiiiii,” balasku. AKu merasakan begitu hangatnya semprotran spermanya ke
dalam tubuhku. Begitu jauh semprotan itu.  “Dik… Mbak pasti hamil ni. Mbak merasakan
spermamu begitu jauh ke dalam liangku. Ke dalam peranakanku. Ini pasti anakmu
dik,” kataku penuh optimis. Aku tahu, beratus kali aku bersenggama dengan Mas
Dibyo suamiku. Saat aku akan hamil, aku tahu sperma itu akan membuahiku. Aku
merasakan saat tubuhku hangat dan terasa seperti meriang, tapi nafsu seks ku
sangat tingi, saat itu aku pasti hamil. Terlebih ketika sperma itu menyemprot
ke dalam tubuhku, aku merasakan jauh ke dalam dan tubuhku menerimanya dengan kehangatan
dan rasa nikmat yang tiada tara.  “Mbak
pasti hamil dik…” kataku pula. “Lalu bagaimana, Mbak…?” “Tak apa, seminggu lagi
mas mu akan pulang, dik. Begitu pulang, kami akan bersetubuh. Tapi pasti aku
hamil karean persetubuhan kita malam ini,” kataku. “Kalau begitu, aku gak perlu
takut dong, Bak. Anak ini, buah cinta kita dan rahasia kita,” katanya
membujukku. Aku tersenyum. Aku setuju. Aku sangat menikmatinya. Ternyata dia
sudah lama menginginkan persegtubuhan denganku. Berarti aku tidak berdosa. Malam
itu, sebelum tidur, kami melakukannya sekali lagi. Menunggu suamiku datang
beberapa hari lagi, akhirnya kami memutuskan, setiap malam kami
melakukannya.  Benar apa yang kurasakan.
Begitu aku periksa ke didokter, dokter menyalami suamiku. “Isteri pak dibyo hamil
dua minggu,” kata dokter.

AKu tersenyum seakan kehamilan itu adalah kehamilan dari suamiku. Suamiku juga tersenyum. Ketika pulang, di atas mobil sumiku berkata:” kamu sudah tau kalau aku adalah lelaki sejati. Baru saja aku pulang, ternyata aku menghamilimu, ” katanya bangga dan tersenyum. Kubalas senyumannya dengan manis menunjuukan rasa simpatiku atas kebanggannya. “Mas memang seorang suami yang hebat,” kataku bangga dan tersenyum semakin mungkin. Di tariknya terngkukku sembari menyetir dan diciumnya bibirku. Aku membalas ckiumannya. “Jaga bayi kita baik-baik,” katanya mengingatkan. Kembali aku tersenyum. Di rumah, secara diam-diam aku menyerahkan hasil tes ku kepada adikku Marwan. “Anakmu berada dalam rahumku,” bisikku dan aku tersenyum sembari mengedipkan mata. Marwan mebaca hasil tes ku. Dia tersenyum dan dengancepat dia kecup bibirku.   Demikianlah cerita bokep dewasa AKU JADI BUDAK SEX PEMUAS NAFSU IBU MUDA dan DI BUNTINGIN ADIK KANDUNG oleh cerita sex hot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *