CERITAKU DENGAN IBU DOSENKU, Update 2023 – jose-goncalves.com
Mon. Jan 30th, 2023

CERITAKU DENGAN IBU DOSENKU

Cerita Dewasa Terkini – cerita mesum ini adalah cerita bokep sex ku pada waktu itu.. Aku mahasiswa arsitektur tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung, dan sudah saatnya melaksanakan tugas akhir sebagai prasyarat kelulusan. Ini lah kisah dewasa ku.. Beruntung, aku kebagian seorang dosen yang asyik dan kebetulan adalah seorang ibu. Gisele namanya, di awal umur tigapuluh, luar biasa cantik dan cerdas. Cukup sulit untuk menggambarkan kejelitaan sang ibu. Bersuami seorang dosen pula yang kebetulan adalah favorit anak-anak karena moderat dan sangat akomodatif. Singkat kata banyak teman-temanku yang sedikit iri mengetahui aku kebagian pembimbing Ibu Gisele. “Dasar lu… enak amat kebagian ibu yang cantik jelita…” Kalau sudah begitu aku hanya tersenyum kecil, toh bisa apa sih pikirku.  Proses asistensi dengan Ibu Gisele sangat mengasyikan, sebab selain beliau berwawasan luas, aku juga disuguhkan kemolekan tubuh dan wajah beliau yang diam-diam kukagumi. Makanya dibanding teman-temanku termasuk rajin berasistensi dan progres gambarku lumayan pesat. Setiap asistensi membawa kami berdua semakin akrab satu sama lain. Bahkan suatu saat, aku membawakan beberapa kuntum bunga aster yang kutahu sangat disukainya.

Sambil tersenyum dia berucap, “Kamu mencoba merayu Ibu,
Nik?” Aku ingat wajahku waktu itu langsung bersemu merah dan untuk
menghilangkan grogiku, aku langsung menggelar gambar dan bertanya sana-sini.
Tapi tak urung kuperhatikan ada binar bahagia di mata beliau. Setelah kejadian
itu setiap kali asitensi aku sering mendapati beliau sedang menatapku dengan
pandangan yang entah apa artinya, beliau makin sering curhat tentang berbagai
hal. Asistensi jadi ngelantur ke bermacam subyek, dari masalah di kantor dosen
hingga anak tunggalnya yang baru saja mengeluarkan kata pertamanya.
Sesungguhnya aku menyukai perkembangan ini namun tak ada satu pun pikiran aneh
di benakku karena hormat kepada beliau. 
Hingga… pada saat kejadian. Suatu malam aku asistensi sedikit larut malam
dan beliau memang masih ada di kantor pukul 8 malam itu. Yang pertama terlihat
adalah mata beliau yang indah itu sedikit merah dan sembab. “Wah, saat yang
buruk nih”, pikirku. Tapi dia menunjuk ke kursi dan sedikit tersenyum jadi
kupikir tak apa-apa bila kulanjutkan. Setelah segala proses asistensi berakhir
aku membeGiselekan diri bertanya, “Ada apa Bu? Kok kelihatan agak sedih?” Kelam
menyelimuti lagi wajahnya meski berusaha disembunyikannya dengan senyum
manisnya. “Ah biasalah Nik, masalah.” Ya sudah kalau begitu aku segera beranjak
dan membereskan segala kertasku. Dia terdiam lama dan saat aku telah mencapai
pintu, barulah… “Kaum Pria memang selalu egois ya Niko?” Aku berbalik dan
setelah berpikir cepat kututup kembali pintu dan kembali duduk dan bertanya
hati-hati. “Kalau boleh saya tahu, kenapa Ibu berkata begitu? Sebab setahu saya
perempuan memang selalu berkata begitu, tapi saya tidak sependapat karena
certain individual punya ego-nya sendiri-sendiri, dan tidak bisa digolongkan
dalam suatu stereotype tertentu.” 

Matanya mulai hidup dan kami beradu argumen panjang tentang subyek tersebut dan ujung-ujungnya terbukalah rahasia perkimpoiannya yang selama ini mereka sembunyikan. Iya, bahwa pasangan tersebut kelihatan harmonis oleh kami mahasiswa, mereka kaya raya, keduanya berparas good looking, dan berbagai hal lain yang bisa membuat pasangan lain iri melihat keserasian mereka. Namun semua itu menutupi sebuah masalah mendasar bahwa tidak ada cinta diantara mereka. Mereka berdua dijodohkan oleh orang tua mereka yang konservatif dan selama ini keduanya hidup dalam kepalsuan. Hal ini diperburuk oleh kasarnya perlakuan Pak Indra (suami beliau) di rumah terhadap Bu Gisele (fakta yang sedikit membuatku terhenyak, ugh betapa palsunya manusia sebab selama ini di depan kami beliau terlihat sebagai sosok yang care dan gentle). Singkat kata beliau sambil terisak menumpahkan isi hatinya malam itu dan itu semua membuat dia sedikit lega, serta membawa perasaan aneh bagiku, membuat aku merasa penting dan dekat dengan beliau. Kami memutuskan untuk jalan malam itu, ke Lembang dan beliau memberi kehormatan bagiku dengan ikut ke sedan milikku. Sedikit gugup kubukakan pintu untuknya dan tergesa masuk lalu mengendarai mobil dengan ekstra hati-hati. Dalam perjalanan kami lebih banyak diam sambil menikmati gubahan karya Chopin yang mengalun lembut lewat stereo. Kucoba sedikit bercanda dan menghangatkan suasana dan nampaknya lumayan berhasil karena beliau bahkan sudah bisa tertawa terbahak-bahak sekarang.  “Kamu pasti sudah punya pacar ya Niko?” “Eh eh eh”, aku gelagapan. Iya sih emang, bahkan ada beberapa, namun tentu saja aku tak akan mengakui hal tersebut di depannya. “Nggak kok Bu… belum ada… mana laku aku, Bu…” balasku sambil tersenyum lebar. “Huuu, bohong!” teriaknya sambil dicubitnya lengan kiriku.

Baca Juga Cerita Seks Dewasa : SAHABAT ISTRIKU dan KENAKALAN ANAK SMA

“Cowok kayak kamu pasti playboy deh… ngaku aja!” Aku tidak
bisa menjawab, kepalaku masih dipenuhi fakta bahwa beliau baru saja mencubit
lenganku. Ugh, alangkah berdebar dadaku dibuatnya. Beda bila teman wanitaku
yang lain yang mencubit.  Larut malam
telah tiba dan sudah waktunya beliau kuantar pulang setelah menikmati jagung
bakar dan bandrek berdua di Lembang. Daerah Dago Pakar tujuannya dan saat itu
sudah jam satu malam ketika kami berdua mencapai gerbang rumah beliau yang
eksotik. “Mau nggak kamu mampir ke rumahku dulu, Nik?” ajaknya. “Loh apa kata
Bapak entar Bu?” tanyaku. “Ah Bapak lagi ke Kupang kok, penelitian.” Hm…
benakku ragu namun senyum manis yang menghiasi bibir beliau membuat bibirku
berucap mengiyakan. Aku mendapati diriku ditarik-tarik manja oleh beliau ke
arah ruang tamu di rumah tersebut akan tetapi benakku tak habis berpikir, “Duh
ada apa ini?”  Sesampainya di dalam,
“Sst… pelan-pelan ya… Detty pasti lagi lelap.” Kami beringsut masuk ke dalam
kamar anaknya dan aku hanya melihat ketika beliau mengecup kening putrinya yang
manis itu pelan. Kami berdua bergandengan memasuki ruang keluarga dan duduk
bersantai lalu mengobrol lama di sana. Beliau menawarkan segelas orange juice.
“Aduh, apa yang harus aku lakukan”, pikirku. 
Entah setan mana yang merasuk diriku ketika beliau hendak duduk kembali
di karpet yang tebal itu, aku merengkuh tubuhnya dalam sekali gerakan dan
merangkulnya dalam pangkuanku. Beliau hanya terdiam sejenak dan berucap, “Kita
berdua telah sama-sama dewasa dan tahu kemana ini menuju bukan?” Aku tak
menjawab hanya mulai membetulkan uraian rambut beliau yang jatuh tergerai dan
membawa tubuh moleknya semakin erat ke dalam pelukanku, dan kubisikkan di
telinganya, “Niko sangat sayang dan hormat pada Ibu, oleh karenanya Niko tak
akan berbuat macam-macam.” Ironisnya saat itu sesuatu mendesakku untuk mengecup
lembut cuping telinga dan mengendus leher hingga ke belakang kupingnya. Kulihat
sepintas beliau menutup kelopak matanya dan mendesah lembut. “Kau tahu aku telah
lama tidak merasa seperti ini Nik…”

Kebandelanku meruyak dan aku mulai menelusuri wajah beliau
dengan bibir dan lidahku dengan sangat lembut dan perlahan. Setiap sentuhannya
membuat sang ibu merintih makin dalam dan beliau merangkul punggungku semakin erat.
Kedua tanganku mulai nakal merambah ke berbagai tempat di tubuh beliau yang
mulus wangi dan terawat.  Aku bukanlah
pecinta ulung, infact saat itu aku masih perjaka namun cakupan wawasanku
tentang seks sangat luas. “Tunggu ya Nik… ibu akan bebersih dulu.” Ugh apa yang
terjadi, aku tersadar dan saat beliau masuk ke dalam, tanpa pikir panjang aku
beranjak keluar dan segara berlari ke mobil dan memacunya menjauh dari rumah
Ibu Ir. Gisele dosenku, sebelum segalanya telanjur terjadi. Aku terlalu
menghormatinya dan… ah pokoknya berat bagiku untuk mengkhianati kepercayaan
yang telah beliau berikan juga suaminya. Sekilas kulihat wajah ayu beliau
mengintip lewat tirai jendela namun kutegaskan hatiku untuk memacu mobil dan
melesat ke rumah Tasya.  Sepanjang perjalanan
hasrat yang telah terbangun dalam diriku memperlihatkan pengaruhnya. Aku tak
bisa konsentrasi, segala rambu kuterjang dan hanya dewi fortuna yang bisa
menyebabkan aku sampai dengan selamat ke pavilyun Tasya. Tasya adalah seorang
gadis yang aduhai seksi dan menggairahkan, pacar temanku. Namun sejak dulu dia
telah mengakui kalau Tasya menyukaiku. Bahkan dia telah beberapa kali berhasil
memaksa untuk bercumbu denganku. Hal yang kupikir tak ada salahnya sebagai
suatu pelatihan buatku. Aku mengetuk pintu kamar paviliunnya tanpa jawaban,
kubuka segera dan Tasya sedang berjalan ke arahku, “Sendirian?” tanyaku. Tasya
hanya mengangguk dan tanpa banyak ba bi bu, aku merangsek ke depan dan kupagut
bibirnya yang merah menggemaskan.

Kami berciuman dalam dan bernafsu. “Kenapa Nik?” di
sela-sela ciuman kami, Tasya bertanya, aku tak menjawab dan kuciumi dengan buas
leher Tasya, hingga dia gelagapan dan menjerit lirih. Tangan kananku membanting
pintu sementara tangan kiriku dengan cekatan mendekap Tasya makin erat dalam
pelukanku. “Brak!” kurengkuh Tasya, kuangkat dan kugendong ke arah kasur. “Ugh
buas sekali kamu Nik…” Sebuah senyum aneh menghiasi wajah Tasya yang
jelita.  Kurebahkan Tasya dan kembali
kami berpagutan dalam adegan erotis yang liar dan mendebarkan. Aku bergeser ke
bawah dan kutelusuri kaki Tasya yang jenjang dengan bibirku dan kufokuskan pada
bagian paha dalamnya. Kukecup mesra betis kanannya. Tasya hanya mengerang
keenakan sambil cekikikan lirih karena geli. Kugigit-gigit kecil paha yang
putih dan mulus memikat itu sambil tanganku tak henti membelai dan merangsang
Tasya dengan gerakan-gerakan tangan dan jari yang memutar-mutar pada
payudaranya yang seksi dan ranum. Dengan sekali tarik, piyama yang dikenakannya
terlepas dan kulemparkan ke lantai, sementara aku bergerak menindih Tasya.  Kami saling melucuti hingga tak ada sehelai
benang pun yang menjadi pembatas tarian kami yang makin lama makin liar. “Niko
ahhh… Niko… Niko…” Tasya terus berbisik lirih ketika kukuakkan kedua kakinya
dan aku menuju kewanitaannya yang membukit menantang. Kusibakkan rambut
pubic-nya yang lebat namun rapih dan serta merta aromanya yang khas menyeruak
ke hidungku. Bentuknya begitu menantang sehingga entah kenapa aku langsung
menyukainya. Kuhirup kewanitaan Tasya dengan keras dan lidahku mulai menelusuri
pinggiran labia minora-nya yang telah basah oleh cairan putih bening dengan
wangi pheromone menggairahkan. Kubuka kedua labia-nya dengan jemariku dan
kususupkan lidahku pelan diantaranya menyentuh klitorisnya yang telah membesar
dan kemerahan.  “Aaagh…”

Tasya menjerit tertahan, sensasi yang dirasakannya begitu menggelora dan semakin membangkitkan semangatku. Detik itu juga aku memutuskan untuk melepas status keperjakaanku yang entah apalah artinya. Sejenak pikiranku melambung pada Ibu Gisele, ah apa yang terjadi besok? Kubuang jauh-jauh perasaan itu dan kupusatkan perhatianku pada gadis cantik molek yang terbaring pasrah dan menantang di hadapanku ini. Tasya pun okelah. Malam ini aku akan bercinta dengannya. Dengan ujungnya yang kuruncingkan aku menotol-notolkan lidahku ke dalam kewanitaan Tasya hingga ia melenguh keras panjang dan pendek.  Lama, aku bermain dengan berbagai teknik yang kupelajari dari buku. Benar kata orang tua, membaca itu baik untuk menambah pengetahuan. Kuhirup semua cairan yang keluar darinya dan semakin dalam aku menyusupkan lidahku menjelajahi permukaan yang lembut itu semakin keras lenguhan yang terdengar dari bibir Tasya. Aku naik perlahan dan kuciumi pusar, perut dan bagian bawah payudaranya yang membulat tegak menantang. Harus kuakui tubuh molek Tasya, pacar temanku ini sungguh indah. Lidahku menjelajahi permukaan beledu itu dengan penuh perasaan hingga sampai ke puting payudaranya yang kecoklatan. Aku berhenti, kupandangi lama hingga Tasya berteriak penasaran, “Ayo Nik… tunggu apa lagi sayang.”  Aku berpaling ke atas, di hadapanku kini wajah putih jelitanya yang kemerahan sambil menggigit bibir bawahnya karena tak dapat menahan gejolak di dadanya. Hmm… pemandangan yang jarang-jarang kudapat pikirku. Tanganku meraih ke samping, kusentuh pelan putingnya yang berdiri menjulang sangat menggairahkan dengan telunjukku. “Aaah Nik… jangan bikin aku gila, please Nik…” Dengan gerakan mendadak, aku melahap puting tersebut mengunyah, mempermainkan, serta memilinnya dengan lidahku yang cukup mahir. (Aku tahu Tasya sangat sensitif dengan miliknya yang satu itu, bahkan hanya dengan itupun Tasya dapat orgasme saat kami sering bercumbu dulu).

CERITAKU DENGAN IBU DOSENKU

Tasya menjerit-jerit kesenangan. Kebahagian melandanya
hingga ia maju dan hendak merengkuh badanku. 
“Eit, tunggu dulu Non… jangan terlalu cepat sayang”, aku menjauh dan
menyiksanya, biar nanti juga tahu rasanya multi orgasme. Nafas Tasya yang
memburu dan keringat mengucur deras dari pori-porinya cukup kurasa. Aku bangkit
dan pergi ke dapur kecil minum segelas air dingin. “Jaaahat Niko… jahaat…”
kudengar seruannya. Saat aku balik, tubuhnya menggigil dan tangannya tak henti
merangsang kewanitaanya. Aku benci hal itu, dan kutepis tangannya, “Sini… biar
aku…” Aku kembali ke arah wajahnya dan kupagut bibirnya yang merah itu dan kami
bersilat lidah dengan semangat menggebu-gebu. Kuraih tubuh mungilnya dalam
pelukanku dan kutindih pinggulnya dengan badanku. “Uugh…” dia merintih di balik
ciuman kami. Kedua bibir kami saling melumat dan menggigit dengan lincahnya,
seolah saling berlomba.  Birahi dan
berbagai gejolak perasaan mendesak sangat dahsyat. Sangat intensif
menggedor-gedor seluruh syaraf kami untuk saling merangsang dan memuaskan sang
lawan. Kejantananku minta perhatian dan mendesak-desak hingga permukaannya
penuh dengan guratan urat yang sangat sensitif. Duh… saatnya kah? aku bimbang
sejenak namun kubulatkan tekadku dan dengan segera aku menjauh dari Tasya.
Tanpa disuruh lagi Tasya meregangkan kedua pahanya dan menyambut kesediaanku
dengan segenap hati. Punggungnya membusur dan bersiap. Sementara aku menyiapkan
batang kemaluanku dan membimbingnya menuju ke pasangannya yang telah lumer
licin oleh cairan kewanitaannya. Oh my God… sensasi yang saat itu kurasakan
sangat mendebarkan, saat-saat pertamaku. Gigitan bibir bawah Tasya menunjukkan
ketidaksabarannya dan dengan kedua betisnya dia mendesak pinggulku untuk
bergerak maju ke depan. Akhirnya keduanya menempel. Kubelai-belaikan permukaan
kepala kejantananku ke klitorisnya dan Tasya meraung, masa sih begitu
sensasional? Biasa sajalah. Kudesak ke depan perlahan (aku tahu ini merupakan
hal pertama bagi dia juga) sial… mana muat? Ah pasti muat. Kusibakkan dengan
kedua jemariku sambil pinggulku mendesak lagi dengan lembut namun mantap.

Membelalak Tasya ketika batang kemaluanku telah menyeruak di
antara celah kewanitaannya.  Sambil
matanya mendelik, menahan nafas dan menggigit-gigit bibir bawahnya, Tasya
membimbing dengan memegang batang kemaluanku, “Hmm… Nik? jangan ragu sayang…”
Dengan mantap aku menghentakkan pinggulku ke depan agar Tasya menjerit. Loh
sepertiganya telah amblas ke dalam. Hangat, basah, ketat sangat sensasional.
Pinggang kugerakkan ke kiri dan ke kanan. Sementara Tasya kepedasan dan air
matanya sedikit mengintip dari ujung matanya yang berbinar indah itu. “Kenapa
sayang?” tanyaku. “Nggak pa-pa Nik… terusin aja sayang… Aku adalah milikmu,
semuanya milikmu…” “Sungguh…”  Aku tahu
pastilah mengharukan bagi gadis manapun meski sebandel Tasya, apabila kehilangan
keperawanannya. Maka untuk menenangkannya aku merengkuh tubuhnya dan kuangkat
dalam pelukan, proses itu membuat kemaluanku semakin dalam merasuk ke dalam
Tasya. Dia mendelik keenakan, matanya yang indah merem melek dan bibirnya tak
henti mendesah, “Nik sayaaang… ugh nikmatnya.” Saat itu aku sedang memikirkan
Ibu Gisele. Aneh, mili demi mili batang kemaluanku menghujam deras ke dalam
diri Tasya dan semakin dalam serta setiap kali aku menggerakkan pinggulku ke
kiri dan ke kanan sekujur tubuh Tasya bergetar, bergidik menggelinjang keras, lalu
kudesak ke dalam sambil sesekali kutarik dan ulur. Tasya menjerit keras sekali
dan kubungkam dengan ciumanku, glek… kalau ketahuan ibu kost-nya mampus kami.

Aku tak menyangka sedemikian ketatnya kewanitaan Tasya, hingga kemaluanku serasa digenggam oleh sebuah mesin pemijat yang meski rapat namun memberikan rasa nyaman dan nikmat yang tak terkira. Pelumasan yang kulakukan telah cukup sehingga kulit permukaannya kuyakin tidak lecet sementara perjalanan batang kemaluanku menuju ke akhirnya semakin dekat. Hangat luar biasa, hangat dan basah menggairahkan, tulang-tulangku seakan hendak copot oleh rasa ngilu yang sangat bombastis.  Perasaan ini rupanya yang sangat diimpikan berjuta pria. “Eh… Tasya sayang… kasihan kau, kelihatan sangat menderita, meski aku tahu dia sangat menikmatinya”. Wajahnya bergantian mengerenyit dan membelalak hingga akhirnya telah cukup dalam, kusibakkan liang kemaluan Tasya-ku tersayang dengan batang kemaluanku hingga bersisa sedikit sekali di luarnya. Tasya merintih dan membisikkan kata-kata sayang yang terdengar bagai musik di telingaku. Aku mendenyutkan kemaluanku dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan bersentuhan dengan hampir seluruh permukaan dalam rahimnya, mentokkah? Berbagai tonjolan yang ada di dalam lubang kemaluannya kutekan dengan kemaluanku, hingga Tasya akan menjerit lagi, namun segera kubungkam lagi dengan ciuman yang ganas pada bibirnya.  Kutindih dia, kutekan badannya hingga melesak ke dalam kasur yang empuk dan kusetubuhi dirinya dengan nafsu yang menggelegak. Dengan mantap dan terkendali aku menaikkan pinggulku hingga kepala kemaluanku nyaris tersembul keluar. Ugh, sensasinya dan segera kutekan lagi, oooh pergesekan itu luar biasa indah dan nikmat. Gadis seksi yang ranum itu merem melek keenakan dan ritual ini kami lakukan dengan tenang dan santai, berirama namun dinamis. Pinggulnya yang montok itu kuraih dan kukendalikan jalannya pertempuran hingga segalanya makin intens ketika sesuatu yang hangat mengikuti kontraksi hebat pada otot-otot kewanitaannya meremas-remas batang kemaluanku, serta ditingkahi bulu mata Tasya yang bergetar cepat mendahului aroma orgasme yang sedang menjelangnya. Aku pernah membaca hal ini.  “Shhs sayang Tasya… jangan dulu ya sayang ya…” “Shhh… Niko… nggak tahan aku… Reeez… shhhh…” “Cup cup… kalem sayang…” kukecup lembut matanya, bibirnya, hidungnya, dan keningnya. Tasya mereda, aku berhenti. “Niko… kamu tega ih…” Tasya cemberut sambil menarik-narik bulu dadaku. “Sshhh sayangku…

Baca Juga Cerita Dewasa Terbaru : ORGASME NIKMAT TANTE DEWI dan SUKABUMI

biar aja, entar kalo udah meledak pasti nikmat deh… minum
dulu yuk sayang…”  Aku menarik keluar
batang kemaluanku, aku tak mau Tasya tumpah, meski demikian saat aku menarik
kemaluanku, ia memelukku dengan kencang hingga terasa sakit menahan sensasi
luar biasa yang barusan dia rasakan. Kalian para pembaca wanita yang pernah bercinta
pasti pernah merasakan hal itu. Sembari minum aku menarik nafas panjang dan
meredakan pula gejolak nafsuku, aku mau yang pertama ini jadi indah untuk kami
berdua. Sial, ingatanku kembali melayang ke Ibu Gisele. Apa yang sekarang dia
lakukan? Bagaimana keadaan dia? Ah urusan besok sajalah. Dengan melompat aku
merambat naik lagi ke tubuh Tasya yang sedang tersenyum nakal. “Minum sayang…”
dia memberengut dan minum dengan cepat. “Ayo Niko… jangan jahat dong…” Dengan
satu gerakan cepat aku menyelipkan diri di antara kedua kakinya seraya
membelainya cepat dan meletakkan kemaluanku ke perbukitan yang ranum itu.
Cairan putih yang kental terlihat meleleh keluar.  Kusibakkan kewanitaannya, dan dengan cepat
kutelusupkan batang kemaluanku ke dalamnya. Ugh, berdenyut keduanya masuklah
ia, dengan mantap kudorong pinggulku mengayuh ke depan. Tasya pun menyambutnya
dengan suka cita. Walhasil dengan segera dia telah masuk melewati liang yang
licin basah dan hangat itu ke dalam diri Tasya dan bersarang dengan nyamannya.
Maka dimulailah tarian Tango itu. Menyusuri kelembutan beledu dan bagai mendaki
puncak perbukitan yang luar biasa indah, kami berdua bergerak secara erotis dan
ritmis, bersama-sama menggapai-gapai ke what so called kenikmatan tiada tara.
Gerakan batang kejantananku dan pergesekannya dengan ‘diri’ Tasya sungguh sulit
digambarkan dengan kata-kata. Kontraksi yang tadi telah reda mulai lagi mendera
dan menambah nikmatnya pijatan yang dihasilkan pada batang kemaluanku. Tanganku
menghentak menutup mulutnya saat Tasya menjerit keras dan melenguh keenakan.

Lama kutahan dengan mencoba mengalihkan perhatian kepada
berbagai subyek non erotis.  Aku
tiba-tiba jadi buntu, Yap… Darwin, eksistensialist, le corbusier, pilotis,
doppler, dan Thalia. Hah, Thalia yang seksi itu loh. Duh… kembali deh ingatanku
pada persetubuhan kami yang mendebarkan ini. Ah, nikmati saja, keringat kami
yang berbaur seiring dengan pertautan tubuh kami yang seolah tak mau
terpisahkan, gerakan pinggulnya yang aduhai, aroma persetubuhan yang kental di
udara, jeritan-jeritan lirih tanpa arti yang hanya dapat dipahami oleh dua
makhluk yang sedang memadu cinta, perjalanan yang panjang dan tak berujung.
Hingga desakan itu tak tertahankan lagi seperti bendungan yang bobol, kami
berdua menjerit-jerit tertahan dan mendelik dalam nikmat yang berusaha kami
batasi dalam suatu luapan ekspresi jiwa. Tasya jebol, berulang-ulang, berantai,
menjerit-jerit, deras keluar memancarkan cairan yang membasahi dan menambah
kehangatan bagi batang kemaluanku yang juga tengah meregang-regang dan bergetar
hendak menumpahkan setampuk benih. Kontraksi otot-otot panggulnya dan perubahan
cepat pada denyutan liang kemaluannya yang hangat dan ketat menjepit batang
kemaluanku. Akh, aku tak tahan lagi.  Di
detik-detik yang dahsyat itu aku mengingat Tuhan, dosa, dan Ibu Gisele yang
telah aku kecewakan, tapi hanya sesaat ketika pancaran itu mulai menjebol tak
ada yang dibenakku kecuali… kenikmatan, lega yang mengawang dan kebahagiaan
yang meluap. Aku melenguh keras dan meremas bahu dan pantat sekal Tasya yang
juga tengah mendelik dan meneriakkan luapan perasaannya dengan rintihan birahi.
Berulang-ulang muncrat dan menyembur keluar tumpah ke dalam liang senggama sang
gadis manis dan seksi itu.

Geez… nikmat luar biasa. Lemas yang menyusul secara
tiba-tiba mendera sekujur tubuhku hingga aku jatuh dan menimpa Tasya yang
segera merangkulku dan membisikkan kata-kata sayang. “Enak sekali Niko, duh
Gusti…” Aku menjilati lehernya dan membiarkan batang kemaluanku tetap berbaring
dan melemas di dalam kehangatan liang kewanitaannya (ya ampun sekarang pun aku
mengingat kemaluan Tasya dan aku bergidik ingin mengulang lagi).  Denyut-denyut itu masih terasa, membelai
kemaluanku dan menidurkannya dalam kelemasan dan ketentraman yang damai.
Kugigit dan kupagut puting payudara Tasya dengan gemas. Tasya membalas menjewer
kupingku, meski masih dalam tindihan tubuhku. “Niko sayang… kamu bandel banget
deh… gimana kalo Rian tahu nanti Nik…” “Iya… dan gimana Gisele-ku ya?” dalam
hatiku. Jadilah Bagian Dari Domino Qiu Qiu 
Ironisnya lagi, kami selalu melakukannya berulang-ulang setiap ada
kesempatan. Bagai tak ada esok, dengan berbagai gaya dan cara tak puas-puasnya.
Di lantai, di dapur, di kasur, di bath tub, bahkan di kedinginan malam teras
belakang paviliun sambil tertawa cekikikan. Rasa khawatir ketahuan yang
diiringi kenikmatan tertentu memacu adrenalin semakin deras, yang segalanya
membuat gairah.  Tak kusangka kami
terkuras habis, lelah tak tertahan namun pagi telah menjelang dan aku harus
bertemu dengan Ibu Gisele. Aku bergerak melangkah menjauhi tempat tidur
meskipun dengan lutut lemas seperti karet dan tubuhku limbung. Kamar mandi
tujuanku. Segera saja aku masuk ke dalam bath tub dan mengguyur sekujur tubuh
telanjangku dengan air dingin. Brrr… lemas yang mendera perlahan terangkat
seiring dengan bangkitnya kesadaranku. Sambil berendam aku mengingat kembali
kilatan peristiwa yang beberapa hari ini terjadi.  Semenjak saat itu asistensiku dengan Ibu
Gisele berlangsung beku, dan dia terlihat dingin sekali, sangat profesional di
hadapanku. Beliau kembali memangilku dengan anda, bukan panggilan manja Niko
lagi seperti dulu. Aku serba salah, tidak sadarkah dia kalau aku pulang malam
itu karena menghormati dan menyayanginya? Hingga dua hari menjelang sidang
akhir, dan keadaan belum membaik, gambarku selesai namun belum mendapat
persetujuan dari Bu Gisele.

Kuputuskan untuk berkunjung ke rumahnya, meski aku tak pasti
apakah Pak Indra ada di sana atau tidak. 
Hari itu mobilku dipinjam oleh teman dekatku, sementara siangnya hujan
rintik turun perlahan. Ugh, memang aku ditakdirkan untuk gagal sidang kali ini.
Bergegas kucegat angkot dan dengan semakin dekatnya kawasan tempat tinggal
beliau, semakin deg-degan debar jantungku. Kucoba mengingat seluruh kejadian
semalam saat aku dan Tasya bercinta untuk kesekian kalinya, untuk mengurangi
keresahanku. Aku turun dari angkot dalam derasnya hujan dan dengan sedikit
berlari aku membuka gerbang dan menerobos ke dalam pekarangan. Basah sudah
bajuku, kuyup dan bunga Aster yang kubawakan telah tak berbentuk lagi.
Kubunyikan bel dan menanti. Bagaimana kalau beliau keluar? bagaimana kalau Pak
Indra ada di rumah? dan beratus what if berkecamuk sampai aku tak menyadari
kalau wajah jelita dan tubuh molek Ibu Gisele telah berdiri beberapa meter di
depanku. Saat aku sadar senyumnya masih dingin, tapi ada rasa kasihan terbesit
tampak dari wajah keratonnya yang selama ini selalu menghiasi mimpi-mimpiku.
Aku hanya bisa menyodorkan bunga yang telah rusak itu dan berkata, “Maafkan
saya…”  Tubuhku yang menggigil kedinginan
dan kuyup itu sepertinya menggugah rasa iba di hati beliau dan aku mendapati
beliau tersenyum dan berkata, “Sudah Niko, cepat masuk, ganti baju sana… dua
hari lagi kamu sidang loh… entar kalo sakit kan Ibu juga yang repot.” Uuugh, leganya
beban ini telah terangkat dari dadaku, dan aku menghambur masuk. “Maaf Bu, saya
basah kuyup.” Beliau masuk ke dalam dan segera membawakan handuk untukku. “Sana
ke kamar dan ganti baju gih, pake aja kaus-kaus Bapak.” KubeGiselekan diri,
mendoyongkan tubuh dan mengecup keningnya, “Terima kasih banyak Bu…” Sang ibu
sedikit terperangah dan kemudian menepis wajahku. “Sudah sana, masuk… ganti
baju kamu.” Dengan sedikit cengengesan aku masuk ke dalam dan mengeringkan
tubuhku, dan mengganti baju dengan kaus yang sungguh pas di badanku. 

Segera aku keluar dan mencari Ibu Gisele. Beliau sedang berada di dapur mencoba membuatkan secangkir teh panas untukku. Aduuh, aku sedikit terharu. Dengan beringsut aku mendekatinya dan merangkul beliau dari belakang. Dengan ketus beliau menepis tubuhku dan menjauh. “Niko… kamu pikir kamu bisa seenaknya saja begitu.” Aku terdiam. “Saya minta maaf Bu, waktu itu saya pergi karena Niko tak sanggup Bu… Ibu, orang yang paling saya hormati dan sayangi, mungkin Niko butuh waktu, Bu…” sambil berkata demikian aku mendekatinya dan memegang pundak kanan beliau dan memberi sedikit pijatan lembut. Beliau tergetar dan tampak sedikit melunak. Aku mendekat lagi, “Ibu mau maafin Niko?” sambil kutatap tajam matanya, kemudian perlahan aku mendekatkan wajahku ke wajah ayu sang ibu. “Tapi Nik…” Beliau kelihatan bingung, namun kecupan lembutku telah bersarang lembut pada keningnya. Kurengkuh Gisele yang ranum itu dalam pelukanku dan kuusap-usapkan kelopak bibirku pada bibirnya dan kukecup dan kugigit-gigit bibir bawahnya yang merah merekah itu. Nafas Gisele sedikit memburu dan bibirnya merekah terbuka.  Semula sedikit pasif ciuman yang kuterima, kemudian lidahku menelusup ke dalam dan menyentuh giginya yang putih, mencari lidahnya. Getar-getar yang dirasakannya memaksa Gisele untuk memerima lidahku dan saling bertautlah lidah kami berdua, menari-nari dalam kerinduan dan rasa sayang yang sulit dimengerti. Bayangkan beliau adalah dosenku yang kuhormati, yang meskipun cantik jelita, putih dan mempesona menggairahkan, namun tetap saja adalah orang yang seharusnya kujunjung tinggi.  “Jangan di sini Nik, Tuti bisa datang kapan saja.” Kutebak Tuti adalah nama pembantu mereka. “Bapak?” “Ah biarkan saja dia”, kata dosen pujaanku itu. Ditariknya tanganku ke arah kamarnya yang mereka rancang berdua. “Buu… Bapak di mana?” Wanita matang yang luar biasa cantik itu berbalik bertanya, “Kenapa, kamu takut? Pulang sana, kalau kamu takut.”  Ah, kutenangkan hatiku dan yakin dia pasti juga tidak akan membiarkan ada konfrontasi di rumah mereka. Jadi aku medahului Gisele (sekarang aku hanya memanggil beliau dengan nama Gisele atas permintaannya.

Baca Juga Cerita Bokep Seks : AKU NIKMATI ISTRIKU DIGAULI ORANG dan PENGALAMAN NGENTOT TANTE LINDA SUPER MONTOK

Di samping itu, Gisele pun tak berbeda jauh umur denganku)
dan dalam satu gerakan tangan, Gisele telah ada dalam pondonganku, kemudian kuciumi
wajahnya dengan mesra, lehernya, dan sedikit belahan di dadanya. Menjelang
dekat dengan tempat peraduan, Gisele kuturunkan dan aku mundur memandanginya
seperti aku memandanginya saat pertama kali. Semula Gisele sedikit kikuk.
“Kenapa? Aku cantik kan?” Gisele bergerak gemulai seolah sedang menari, duh
Gusti… cantik sekali. Ia mengenakan daster panjang berwarna light cobalt yang
menerawang.  Kupastikan Gisele tidak
mengenakan apa-apa lagi di baliknya. Payudaranya bulat dan penuh terawat,
pinggulnya selalu membuat para mahasiswi iri bergosip dan mahasiswa berdecak
kagum. Aku sekonyong-konyong melangkah maju dan dengan lembut kutarik ikatan di
belakang punggungnya, hingga bagaikan adegan slow motion daster tersebut
perlahan jatuh ke lantai dan menampilkan sebuah pemandangan menakjubkan, luar
biasa indah. Tubuh telanjang Ir. Gisele yang menggairahkan. Tanpa tunggu lebih
lama aku kembali melangkah ke depan dan kami berpagutan mesra, lembut dan
menuntut.  Mendesak-desak kami saling
mencumbu. Ciuman terdahsyat yang pernah kualami, sensasinya begitu memukau.
Lidahnya menerobos bibirku dan dengan penuh nafsu menyusuri permukaan dalam
mulutku. Bibirnya yang mungil dan merah merekah indah kulumat dengan lembut
namun pasti. Impian yang luar biasa ini, saat itu aku bahkan hendak mencubit
lengan kiriku untuk meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi. Gisele melucuti
pakaianku dan meloloskan kaosku, sambil sesekali berhenti mengagumi
gumpalan-gumpalan otot pada dadaku yang cukup bidang dan perutku yang rata
karena sering didera push-up.  Kami
berdua sekarang telanjang bagai bayi. Ada sedikit ironi pada saat itu, dan kami
berdua menyadarinya dan tersenyum kecil dan saling menatap mesra. Aku
menggenggam kedua tangannya dan mengajaknya berdansa kecil, eh norak tapi
romantis.

Gisele tergelak dan menyandarkan kepalanya ke dadaku dan
kami ber-slow dance di sana, di kamar itu, aku dan Gisele, tanpa pakaian.
Batang kemaluanku tanpa malu-malu berdiri dengan tegaknya, dan sesekali
disentil oleh tangan lentik Gisele. Dengan perutnya ia mendesak batang
kemaluanku ke atas dan menempel mengarah ke atas, duh ngilu namun
sensasional.  Saat itu cukup remang
karena hujan deras dan cuaca dingin, namun rambut Gisele yang indah tergerai
wangi tampak jelas bagiku. Kucium dan kubelai rambutnya sambil kubisikkan
kata-kata sayang dan cinta yang selalu dibalasnya dengan… gombal, bohong dan
cekikikan yang menggemaskan. Aku semakin sayang padanya.  Ah, aku tak tahan lagi. Kudesak tubuh Gisele
ke arah pinggiran peraduan, kubaringkan punggungnya sementara kakinya tergolek
menjuntai ke arah lantai. Aku berlulut di lantai dan mengelus-elus kaki
jenjangnya yang mulus. Dan mulai mencumbunya. Kuangkat tungkai kanannya sambil
kupegang dengan lembut, kutelusuri permukaan dalamnya dengan lidahku, perlahan
dari bawah hingga ke arah pahanya. Pada pahanya yang putih mulus aku melakukan
gerakan berputar dengan lidahku. Gisele merintih kegelian. “Nik, it feel so
good, aku pengen menjerit jadinya…” Saat menuju ke kewanitaannya yang berbulu
rapi dan wangi, aku menggunakan kedua tanganku untuk membelai-belai bagian
tersebut hingga Gisele melenguh lemah. Lalu sambil menyibakkan kedua labianya,
aku menggigit-gigit dan menjepit klitorisnya yang tengah mendongak, dengan
lembut sekali. “Aduuuh Nik, aku sampai sayang…” Sejumlah besar cairan kental
putih meluncur deras keluar dari dalam liang kewanitaaannya dan dengan segera
aroma menyengat merasuk hidungku. Dengan hidungku aku mendesak-desak ke dalam
permukaan kewanitaannya. Gisele menjerit-jerit tertahan.  “Nikooo… nggghh… Nik… aduhh…” Gisele sontak
bangkit meraih dan meremas rambutku kemudian semakin menekannya ke dalam
belahan dirinya yang sedang menggelegak. Kuhirup semua cairan yang keluar
dari-nya, sungguh seksi rasanya. Aku mengenali wangi pheromone ini sangat khas
dan menggairahkan.

Gisele-ku tersayang juga menyukainya, sampai menitikkan sedikit air mata. Aku naik ke atas dan menenangkan kekasih dan dosenku itu. Dengan wajah penuh peluh Gisele tetaplah mempesona. “Aduh Nik, Gisele udah lama nggak banjir kayak gitu… mungkin perasaan Gisele terlalu meluap ya sayang ya…” Dengan manja ibu yang sehari-harinya tampil anggun itu melumat bibirku dan menciumi seluruh permukaan wajahku sambil cekikikan. Aduuuh, aku sayang sekali sama dosenku yang satu ini. Kudekap Gisele dalam pelukanku erat demikian juga dibalasnya dengan tak kalah gemasnya, sehingga seolah-olah kami satu.  Aku ingin begini terus selamanya, mendekap wanita yang kusayangi ini sepanjang hayatku kalau bisa, tapi nuGiseleku berbisik bahwa aku tidak dapat melakukannya. Akhirnya kuliahku telah usai dan nilai yang memuaskan telah kuraih, wisuda telah lama lewat, dan sekarang aku telah menjadi entrepeneur muda. Demikianlah cerita sex panas CERITAKU DENGAN IBU DOSENKU oleh cerita sex hot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *